Tolong-Menolong Dan Saling Keterkaitan

Bagi para pemuda yang telah bertekad mempelajari dan memahami Islam dengan benar, mengimaninya dengan mendalam, membenarkannya tanpa dicampuri sedikitpun keraguan, kemudian saling nasihat-menasihati dengannya, dan menyeru orang lain kepadanya, maka hendaklah mereka melengkapinya dengan sikap tolong menolong diantara sesamanya dan memiliki rasa saling keterkaitan.

Setiap Al-Quran menyebut orang beriman selalu menggunakan redaksi jama’ (plural). Jadi beriman identik dengan kesiapannya mewujudkan dan membangun ummah (komunitas). Diantara arti “ummah” adalah mereka berkumpul karena ikatan yang prinsip, bukan sekedar bergerombol. Kualitas keimanan seseorang diukur dari ketrampilannya dalam menjalin interaksi dengan orang lain. Sesungguhnya intisari beragama adalah pandai bergaul (ad-Dinu huwal mu’amalah), meminjam sosiolog muslim, Ibnu Khaldun.

يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُم بِرَحْمَةٍ مِّنْهُ وَرِوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ

“Dan orang-orang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. At Taubah (9) : 21).

Karena tugas-tugas Islam tidak bisa dilakukan hanya secara individu, melainkan harus dilaksanakan dengan beramal jama’i. Dan yang dimaksud berjamaah adalah ditandai dengan adanya ikatan persaudaraan antara sebagian dengan sebagian yang lain, yang saling mencintai karena Allah SWT, bersama-sama mengadakan majelis karena Allah SWT, saling berkorban karena Allah SWT.

Tanpa ini semua mustahil dilakukan dengan kekuatan, kemampuan dan kecerdasan individual, tetapi dengan bergandengan tangan. Sebab, tangan itu kalau hanya sebelah tidaklah mungkin bertepuk tangan.

وَالَّذينَ كَفَرُواْ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاء بَعْضٍ إِلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai Para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu [keharusan bersaudara yang kokoh antara kaum muslimin], niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.” (QS. Al Anfal (8) : 73).

الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُم مِّن بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمُنكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ نَسُواْ اللّهَ فَنَسِيَهُمْ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, satu dengan yang lain adalah (sama), mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan mencegah (perbuatan) yang makruf dan mereka menggenggamkan tangannya  (kikir). Mereka telah melupakan kepada Allah SWT, maka Allah melupakan mereka (pula), sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (QS. At Taubah (9) : 67).

Orang-orang kafir bekerja sama, saling melindungi dan saling menolong antara sebagian terhadap sebagian yang lain. Oleh karena itu, kita – kaum muslimin – harus saling mengayomi, melindungi, bekerja sama, bersinergi, memadukan berbagai potensi dan kekuatan serta keunggulan masing-masing, tolong menolong, dan bahu membahu, bantu membantu.

Sehingga, tidak ada lagi kenyataan himpunan kekuatan di pihak kebatilan, sedang orang-orang yang berada di pihak kebenaran bekerja dan berbuat sendiri-sendiri. Sebab, keadaan demikian sudah tentu akan mengundang fitnah, kekacauan dan kerusakan yang besar di muka bumi ini.

Kita akan menghadapi dengan pandangan yang bersih pada cermin yang jernih pula. Atau kita duduk dengan penuh keberanian, siap siaga (i’dad). Kita sengaja melakukan pembedahan terhadap diri sendiri sebelum dibedah oleh orang lain dengan pisau operasi bedah mereka. Jangan sampai terjadi, orang lain lebih dahulu mengetahui kelemahan, kekurangan, sisi gelap struktur kepribadian kita, daripada kita sendiri.

Beruntunglah bagi orang yang sibuk meneliti cacatnya sendiri sebelum mengoreksi aib orang lain (al-Hadits). Evaluasi diri (at-Taqwim wal mutaba’ah) adalah indicator terpenting kualitas ketakwaan seseorang.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr (59) : 18).

Nah, demikianlah empat amanah dan kewajiban yang mendesak untuk ditunaikan dengan sebaik-baiknya dan dengan sepenuh kemampuan dan kekuatan yang dimiliki oleh pemuda Islam hari ini. Kita harus pandai mengambil pelajaran dari sejarah baik yang baru terjadi pada masa-masa dekat maupun pada masa-masa yang telah jauh berlalu. Ia juga harus mengetahui bagaimana ia berjalan dengan jalan Islam dan harakah Islam sehingga islam memiliki kekuatan dan daulah (pusat penerapan nilai-nilai keislaman).

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s