Mengajarkan Al-Qur’an

Al-Bukhary meriwayatkan di dalam Shaihnyala-nya dari Utsman bin Affan RA, bahwa Nabi SAW bersabda,

‘’Sebaik-baik orang di antara kalian ialah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.’’

Al-Qur’an adalah sesuatu yang paling utama untuk dipelajari dan juga untuk diajarkan.

Az-Zarkasyi berada di dalam Al-Burhan, ‘’Rekan-rekan kami menuturkan, bahwa mengajarkan Al-Qur’an itu hukumnya fardu kifayah, begitu pula menghapalnya. Artinya sebagai mana, yang dikatakan Al-Juwiny, agar ada selalu jumlah banyak, sehingga tidak akan muncul pengubahan dan penggantian Al-Qur’an. Jika sesudah ada segolongan orang yang melakukannya, maka yang lain tidak lagi berkewajiban. Jika tidak, maka semua umat berdosa. Jika suatu negri dan wilayah tidak ada yang hapal Al-Qur’an, maka mereka semua berdosa. Jika disana ada sekumpulan orang yangt pandai mengajar, lalu diantara mereka itu diminta untuk mengajar namun menolak, maka dia tidak berdosa menurut pendapat yang lebih besar, seperti yang di katakana An-Nawawy didalam At-Tibyan. Gambaran dari permasalahannya terletak pada kemaslahatan yang tak akan hilang jika ada penundaan. Tapi jika kemaslahatan itu hilang, maka tidak boleh ada penolakan itu.’’

Lalu apa yang dimaksud dengan mempelajari Al-Qur’an dan mengajarnya? Apakah itu berarti menghapal kalimat-kalimat Al-Qur’an dan huruf-hurufnya di luar kepala, seperti tugas para penulis dan sekretaris pada zaman dahulu, dan yang sebagian juga masih diterapkan pada pada zaman sekarang atau seperti dilaksanakan  di sekolah-sekolah hapalan Al-Qur’an?

Boleh jadi yang demikian itu termasuk dalam maksud pendidikan dan pelajaran Al-Qur’an. Sebagian orang ada yang berpendapat bahwa memang inilah satu-satunya maksud dan tidak ada yang lain. Boleh jadi anggapan ini muncuk karena besarnya perhatian terhapap penghapalan Al-Qur’an, penghormatan terhadap para penghapal dan dalam rangka mendapatkan imbalan serta upah yang bisa didapatkan para penghapal itu. Bahkan sebagian diantara mereka ada yang bisa lima puluh ribu real dalam suatu lomba yang diselenggarakan di Qatar dan ditambah lagi dengan bonus sebuah mobil yang nilainya lebih tinggi dari hadiah itu. Begitu pula terjadi pada tahun berikutnya.

Inilah yang membuat kami melancarkan keritikan pedas terhadap munculnya trend ini, seperti yang kami uraikan dalam buku  Fiqhul-Ulawiyat, yang menggap hapalan lebih penting dari pada pemahaman, penghapalan Al-Qur’an lebih mendapat tempat daripada orang yang memahai Al-Qur’an.

Ini perhatian Nabi SAW ialah mengajarkan Al-kitab dan Al-Hikmah, seperti yang di sebutkan di empat ayat (Al-Baqarah:129,151, Ali imran:164, dan Al-Jumu’ah:2). Tidak dapat diragukan bahwa maksud pelajaran di sini bukanlah hapalan, yang dikuatkan dengan penyebutan pembacaan ayat-ayat kepada mereka pada sesuatu yang dijelaskan, seperti yang disebutkan dalam ayat ini, ‘’Yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka Al-kitab dan Al-Hikmah.’’(Ali imran:164). Mengajarkan lebih spesifik daripada membacanya.

Belajar dan mengjar inilah yang diungkapkan dalam beberapa hadist dengan istilahtadarus.

Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda,

‘’Tidaklah segolongan orang berkumpul  di salah satu rumah-rumah Allah Ta’ala, mereka Membaca Kitab Allah dan mempelajarinya di antara sesame mereka, melaikan ketentraman turun kepada mereka, rahmat melingkupi mereka, para melekat mengelilingi mereka dan Allah menyebutkan mereka di antara orang-orang yang ada di sisi-Nya.’’

Maka tadarus di sini ialah usaha mengetahui lafaz dan kalaimat-kalimatnya, makna dan pengertian-pengertiannya, pelajaran-pelajaran yang di tuntukannya dan apa yang ditunjukkannya berupa hukum dan adab. Tadarus sama dengan bentuk tafa’ul dari katadars. Artinya, salah satu pihak atau beberapa pihak mengajukan pertanyaan, yang kedua menjawab, yang ketiga meneliti, yang lain lagi membenarkan atau menyempurnakan. Inilah yang di maksud dengan tadarus.

Tadarus ini pula yang dilakukan Nabi SAW dengan jibril, melekat  yang dipercaya menyampaikan wahyu, pada bulan Ramadhan setiap tahunnya, sebagai mana diriwayatkan Ibnu Abbas Ra, yaitu ketika jibril turun menemukan beliau pada bulan Ramadhan, lalu melakukan tadarus Al-Qur’an dengan beliau. Tadarus ini dilakukan dua pihak yang angung, yaitu kepercayaan Allah di bumi dan kepercaan Allah di langit.

Belajar Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan menghapal baris-baris dan ayat-ayatnya, tampa memahami satu makna pun darinya, meskipun orang yang hanya menghapalnya sudah mendapat pahala, tergantung dari niatnya, tapi toh dia harus memahami menurut kemampuannya, apa yang dikehendaki Allah darinya, sesuai dengan kapasitas lembahnya untuk menampung ma’rifat.

Hal ini ditunjuka oleh riwayat Uqbah bin Amir RA, dia berkata, ‘’Rasulullah SAW menemui kami, yang saat itu kami berada di Ash-Shuffah, lalu beliau bersabda. ‘’Siapa diantarak kalian yang suka pergi ke lembah Buthhan atau Al-Aqiq setiap hari untuk mengambil dua ekor onta yang besar punuknya tampa mempunyai dosa dan tidak pula memutuskan tali persaudaraan?’’

Kami menjawab, ‘’Wahai Rasulullah, setiap orang di antara kami tentu menyukai hal itu.’’

Beliau bersabda, ‘’Mengapa salah seorang di antara kalian tidak pergi ke masjid lalu belajar atau membaca dua ayat dari Kitab Allah? Yang demikian demikian itu lebih baik dari dua ekor onta. Tiga ayat yang di baca lebih baik dari tiga ekor onta, empat ayat yang di baca lebih baik dari pada empat ekor onta, begitu juga seterusnya sesuai dengan bilangannya.’’

Menurut hemat kami, mempelajari dua, tiga atau empat ayat di sini bukan berarti menghapal huruf-hurufnya semata, tapi yang di maksudkannya ialah mempelajari ilmu dan sekali gus amal yang terkandung di dalam ayat itu, karena itulah hadist ini di sedikitkan bilangannya, agar memudahkan penyerapan ilmu dan pelaksanaan amal secara bersama-sama.

Begitulah cara para shahabat dalam mengajarkan Al-Qur’an, seperti yang kami jelaskan di atas. Dengan begitu ayat-ayat dipelajari orang Muslim menjadi cahaya dan bukti keterangan bagi nya pada hari kiamat, sebagai mana diriwayatkan Abu Umamah, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

‘’ Barangsiapa mempelajari satu ayat dari kitab Allah, maka ayat itu akan menyambut kedatangannya pada hari kiamat sambil menyungingkan senyuman di hadapannya.’

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s