Manusia Dalam Al-Qur’an

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat. Ikhwan tercinta, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah swt., yang baik dan diberkahi: assalamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Anda semua tentu ingat. Saya pernah berjanji bahwa tema pembicaraan kita pada kajian malam ini adalah kitab Allah swt. Saya tidak bermaksud agar kajian-kajian ini mengupas semua hakikat ilmiah, perbedaan-perbedaan pendapat, atau kemungkinan beragamnya penafsiran. Saya tidak bermaksud demikian. Hanya satu tujuan saya: saya ingin memudahkan jalan untuk memahami Kitabullah, bagi siapa yang membacanya. Saya ingin memaparkan kandungan isinya secara umum dan membukakan pintu pemahaman terhadapnya. Barangkali Anda sekalian, wahai Ikhwan, ingat sebuah pepatah yang mengatakan,

“Barangsiapa mengenal dirinya, ia mengenal tuhannya. ” Jadi, jika Anda mengenal diri Anda dengan sebenar-benarnya dan mengerti kedudukan yang diberikan oleh Tuhan kepada Anda, Anda

dapat menunaikan hak diri Anda dan hak Tuhan Anda. Dengan demikian Anda akan sampai kepada ma’rifatullah. “Dan di dalam diri kalian, tidakkah kalian melihat?” <Ad\:D^aariyat: 21) Akhi, saya ingin agar kita berusaha supaya dapat melihat, di manakah kedudukan kita sebagai manusia? Apakah kewajiban kita ketika berada dalam kedudukan ini? Kita ingin mengetahui kedudukan yang diberikan oleh Allah kepada kita, agar kita dapat menunaikan hak diri kita dan setelah itu kita juga mengetahui hak Allah terhadap kita. Akhi, ketika kita mengupas tema ini dari sudut pandang ini, maka kita mendapati bahwa ia berkisar pada satu pokok persoalan, yaitu kisah Adam as. Saya ingat, kisah ini terdapat dalam beberapa tempat dalam Al-Qur’an: di surat Al-Baqarah, Al-A’raf, Al-Hijr, Al-Isra’, Thaha, Shad, dan Ar-Rahman. Dalam surat-surat ini, terdapat informasi yang benar mengenai penciptaan manusia. Saudaraku, Anda melihat bahwa Allah swt. menyebut manusia di dalam banyak surat dalam Al-Qur’an. Dalam surat Al-Baqarah, “Bagaimana kalian kufur kepada Allah, padahal kalian tadinya mati, lantas Allah menghidupkan kalian, kemudian kalian dimatikan dan dihidupkan kembali, kemudian kepada Allah-lah kalian dikembalikan.” (Al-Baqarah: 28) Dalam surat yang sama juga disebutkan, “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di bumi.’ Mereka berkata, ‘Apakah Engkau akan menjadikan di bumi orang yang akan berbuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan mernuji-Mu dan memahasucikan-Mu?’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.’” (Al-Baqarah: 30) Inilah kisah manusia dalam Al-Qur’an, sebagaimana yang digambarkan oleh surat Al-Baqarah. Dalam surat Al-A’raf, pemaparan mengenai hal ini lebih mendetail, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam!’, maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, ‘Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?’ Iblis menjawab, ‘Saya lebih baik daripadanya; Engkau menciptakanku dan api sedangkan ia Engkau ciptakan dari tanah.’ Allah berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu

tidak separutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.’ Iblis menjawab, ‘Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.’ Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).’ Allah berfirman, ‘Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya. Dan engkau, wahai Adam, bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zhalim.’ Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan setan berkata, ‘Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (di dalam surga).’ Dan setan bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.’ Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu dayra. Tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru, ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, “Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu berdua?’” Keduanya berkata, ^a Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.’ Allah berfirman, ‘Turunlah kalian, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan.’ Allah berfirman, ‘Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.’” (Al-A’raf: 11-25)

Mahabenar Allah Yang Mahaagung. Ayat-ayat ini memaparkan kisah Adam as. dengan sedikit terperinci. Ia memaparkan dialog antara Allah swt. dengan setan. Ia mengupas sebab yang menjadikan setan tersesat, yaitu kesombongan serta sebab yang menjadikan Adam tergelincir dalam kesalahan, yaitu teperdaya oleh setan. Akhi, Anda juga bisa mendapatkan deskripsi semacam ini di dalam surat Al-Hijr dengan sedikit terperinci. Ayat-ayat tersebut memaparkan penciptaan manusia yang dilakukan oleh Allah swt. dari tanah kering yang berasal dari lumpur hitam yang dibentuk. Kemudian bagaimana Allah menyempurnakannya dan meniupkan ruh ke dalamnya? Kemudian Allah memerintahkan kepada para malaikat agar bersujud kepadanya, kepada suatu rahasia Ilahi yang lembut dan bernuansa ketuhanan ini. Maka para malaikat pun bersujud, kecuali iblis yang menyatakan bahwa dirinya tidak pantas bersujud kepada manusia yang diciptakan dari tanah kering yang berasal dari lumpur hitam yang dibentuk. Iblis hanya ingat kepada bahan bakunya saja, tetapi ia melupakan bahwa bahan baku itu tidak bernilai apa-apa kecuali setelah ditiupkan ruhNya ke dalamnya. Iblis adalah makhluk yang sombong, karena itu Allah Yang Maha-besar membutakannya dari pengetahuan tentang rahasia yang kare-nanya ia diwajibkan bersujud. Karena itu, ia pasti tertimpa laknat. “Allah berfirman, ‘Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.’ Iblis berkata, Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah aku sampai hari (manusia) dibangkitkan.’ Allah berfirman, ‘(kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh. Sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.’ Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasd aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka.’ Allah berfirman, Tni adalah jalan yang lurus, kewajibanKu-lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat.’” (Al-Hijr: 34-42) Ikhwanku, di sini Anda menemukan bahwa kisah tersebut dipaparkan bersamaan dengan pemaparan makna ayat secara umum dan penjelasan pada bagian-bagian tertentu. Di sini dijelaskan bahwa Iblis telah mengakui ketuhanan Allah swt. Di sini Allah swt. menjelaskan bahwa ada sebagian manusia yang tidak dapat dikuasai oleh Iblis.

Dalam surat Al-Isra’ Anda mendapatkan informasi ringkas mengenai kisah Adam. Kisah tersebut sedikit menyinggung tentang metode iblis untuk menguasai manusia dan penjelasan mengenai kedustaan janji-janji iblis kepada manusia. “Iblis berkata, ‘Terangkanlah kepadaku, inikah orang yang Engkau muliakan atas diriku itu? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benarbenar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil saja.’ Allah berfirman, ‘Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikutimu, maka sesungguhnya neraka Jahanam adalah balasanmu semua, sebagai pembalasan yang cukup. Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikadah dengan mereka pada harta dan anak-anak, dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai Penjaga.’” (AlIsra’: 62-65) Ikhwanku, dalam surat Thaha, Anda menemukan informasi mengenai gambaran umum kisah ini serta perpaduan antara berbagai peristiwa ini dan maknanya secara umum. Tetapi Anda menemukan isyarat bahwa manusia itu lemah selama tidak dikaruniai kekuatan oleh Allah. Allah juga menyampaikan bahwa salah satu karakter manusia adalah lupa. Ia punya watak pelupa dan rakus. “Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata, ‘Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepadamu pohon khuldi (pohon keabadian) dan kerajaan yang tidak akan binasa?’ Maka keduanya memakan buah pohon itu, lalu tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (Thaha: 120-122) Ini terjadi setelah Allah berpesan kepada Adam, namun ia lupa dan lengah. Ia tidak mempunyai kemauan kuat yang dapat menolak godaangodaan setan. Dalam surat Shad terdapat penafsiran bahwa tanah kering dan lumpur hitam sebagai bahan baku penciptaan manusia itu berupa tanah liat. Di situ tampak kemuliaan yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia. “Allah berfirman, ‘Hai Iblis, apakah yang menghalangi kamu bersujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.

Apakah kamu menyombongkan diri ataukah orang-orang yang (lebih) tinggi?’” (Shad: 75)

Di dalamnya terdapat pengakuan Iblis mengenai kemuliaan swt. dan bahwa laknat yang menimpanya merupakan laknat Tuhan.

Ketika mengupas kajian tentang surat Ar-Rahman, kita menemukan bahwa kisah tersebut telah menginformasikan unsur bahan baku manusia. “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar.” (Ar-Kahman: 14) Di dalamnya terdapat isyarat bahwa unsur-unsur yang ada dalam tubuh kita adalah berasal dari tanah yang ada di bumi ini, dari kandungan dan bahan mentahnya. Jika kita memperhatikan kisah tersebut secara lahirnya, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat-ayat Al-Qur’anul Karim ini, kita menemukan bahwa ia memberikan petunjuk tentang sesuatu yang jelas, gamblang, dan tidak memerlukan penafsiran, yaitu bahwa manusia itu dalam bentuk materinya telah diciptakan tanpa contoh terlebih dahulu. Ia bukan merupakan rangkaian dari makhluk lain sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian pakar biologi. Namun, ada beberapa aliran materialis yang ngotot meyakini pendapat yang dikatakan oleh mereka yang meyakini evolusi manusia dari hewan lain, padahal Darwin sendiri mengakui bahwa ia tidak dapat mengetahui rahasia kehidupan. Ia mengakui bahwa setiap kali mencoba memperdalam penelitiannya ini, ia makin tahu bahwa sumber kehidupan adalah Allah swt. Adapun bagaimana penciptaan tersebut, maka AlQur’anul Karim tidak merincinya. As-Sunah juga tidak memaparkannya secara mendetail. Tetapi yang kita yakini adalah bahwa manusia, dengan unsur materi semata tanpa ruh, merupakan bagian dari unsur tanah yang manusia injak; manusia bukanlah salah satu jenis binatang yang mengalami evolusi setelah beradaptasi dengan lingkungannya, dan bahwa alasan-alasan yang dikemukakan oleh para tokoh dan ilmuwan materialisme mengenai berbagai syubhat dalam masalah ini hanyalah dugaan-dugaan yang dilontarkan oleh para ilmuwan biologi. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (Al-lsra: 36) Ini dipandang dari segi komposisi materi manusia, komposisi tanah sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qur’an.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s