Khusyu’ dan Menangis Saat Membaca Al-Qur’an

Di antara adab membaca Al-Qur’an ialah khusyu’ dan menangis serta menampakkan kesedihan, Allah berfirman,

Sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr : 21)

Jika seseorang yang membacanya tidak bisa membuat  hatinya khusyu’, matanya menangis dan jiwanya bersedih, hendaklah dia memaksakannya dan berusaha semaksimal mungkin untuk itu. Inilah yang dituntut saat membaca Al-Qur’an dan saat mendengarnya. Allah berfirman,

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Al-Hadid : 16)

Ibnu Abbas berkata, “Sesungguhnya Allah menganggap lamban hati orang-orang Mukmin. Maka Dia menegur mereka selama tiga belas tahun semenjak turunnya Al-Qur’an. Maka kemudian Allah berfirman, “Belumkah datang waktunya…..”

Ibnu Katsir berkata, “Allah melarang orang-orang Mukmin menyerupai orang-orang yang pernah diberi Al-Kitab sebelum mereka dari kalangan Yahudi dan Nasrani, karena setelah sekian lama waktu berlalu, mereka mengganti Kitab Allah yang ada di tangan mereka, dan mereka memperjualbelikannya dengan harga yang murah, dan setelah itu mereka melemparkannya ke balik punggung, dan lebih suka menerima berbagai macam pendapat dan perkataan yang simpang siur, pada saat itulah hati mereka menjadi keras, tidak mau menerima nasihat, hati mereka tidak bisa menjadi lembut karena janji dan ancaman.”

Yang demikian ini seperti firman Allah,

“Karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka dan Kami jadikan hati  mereka keras membantu.” (Al-Maidah :13)

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayat) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabbnya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.”(Az-Zumar : 23).

Allah mensifati “Orang-orang yang diberi ilmu” dengan khusyu’ dan menangis ketika mendengar Al-Qur’an. Firman-Nya,

“Dan Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, Dan mereka berkata: “Maha suci Tuhan Kami, Sesungguhnya janji Tuhan Kami pasti dipenuhi”. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (Al-Isra’ : 106-109).

begitulah harmoni mereka dengan Al-Qur’an, menyungkur kepada Allah dan bersujud, mengingat Allah dan berdoa, menangis dan bertambah khusyu’.

Allah juga memuji sebagian di antara orang-orang Nasarni saat mendengar Al-Qur’an.

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu Lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari Kitab-Kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah beriman, Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.). Mengapa Kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada Kami, Padahal Kami sangat ingin agar Tuhan Kami memasukkan Kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh ?”. (Al-Maidah : 83-84)

Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu Anhu, bahwa dia pernah membacakan surat An-Nisa’ kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Di dalam riwayat ini disebutkan bahwa kedua mata beliau meneteskan air mata. (Muttafaq Alaihi).

Dari Sa’d bin Abi Waqqash, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Bacalah Al-Qur’an dan menangislah. Jika kalian tidak bisa menangis, maka usahakan untuk menangis.”

Ibnu Abbas berkata, “Jika kalian membaca ayat sajdah (akhir surat Al-Isra’), maka janganlah buru-buru sujud sebelum kalian menangis. Jika kalian tidak bisa menangis, usahakanlah untuk menangis. Jika mata kalian tidak bisa menangis, hendaklah hati kalian yang menangis.” Hati yang menangis ialah hati yang sedih dan takut.

Al-Imam Al-Ghazaly berkata, “Cara memaksakan diri untuk menangis ialah dengan menghadirkan kesedihan ke dalam hati, karena dari kesedihan inilah akan muncul tangis, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya Al-Qur’an itu turun dengan kesedihan. Jika kalian membacanya, maka paksakanlah untuk bersedih’.”

Cara lain mendatangkan kesedihan ialah dengan memperhatikan ancaman dan peringatan, lalu membaca melihat kekurangan dan keterbatasan dirinya dalam melaksanakan perintah, hingga dengan begitu dia bisa bersedih dan menangis. Jika dia tidak bisa menghadirkan rasa sedih dan tangis seperti yang dilakukan orang-orang yang mencucikan dirinya, maka hendaklah dia menangis karena tidak bisa menghadirkan rasa sedih dan tangis. Karena yang demikian itu merupakan musibah yang besar.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s