Alqur’an Dan Hakikat-Hakikat Ilmiah

Ikhwan sekalian, meskipun Al-Qur’anul Karim diturunkan bukan sebagai sebuah buku ilmiah yang menjelaskan berbagai hakikat alam, sebagaimana yang diuraikan oleh buku-buku khusus untuk itu, namun ia juga mengemukakan hukum-hukum ilmiah yang dapat mengantarkan ketakjuban manusia ketika itu, apalagi ketika ia mendengar penjelasan itu dari seorang nabi berkebangsaan Arab yang buta huruf. Bagaimana mungkin ada kitab ajaib seperti ini di zaman kebodohan dan kegelapan? Al-Qur’an menjelaskannya kepada manusia sebagai cahaya, dengan gaya bahasa yang merakyat dan halus sehingga bisa dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh orang awam. Ini merupakan keunikan yang tidak terdapat pada kitab sebelumnya dan tidak terdapat pula dalam kitab-kitab yang ada setelahnya. Ketika membahas tentang alam semesta, Al-Qur’an mengemukakan awal penciptaannya, beberapa fenomena alam, dan keadaan akhirnya. Al-Qur’an menyinggung permulaan penciptaan langit dan bumi, fenomena matahari dan bulan, dan akhir dari alam semesta ini. Keterangan Al-Qur’an tentang berbagai masalah ini tidak ada yang bertentangan dengan hakikat-hakikat ilmiah yang telah banyak diketahui oleh akal

manusia, yang telah disingkap oleh para ahli ilmu alam melalui berbagai eksperimen mereka dengan menggunakan sarana-sarana modern yang tidak berhubungan sama sekali dengan wahyu. Contoh lain adalah firman Allah swt.: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kalian mengingat akan kebesaran Allah.” (Adi-Diariyat: 49) Dan firman-Nya yang lain, “Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, ‘Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.’” (Fushilat: 11) Ini sesuai dengan teori positif-negatif, di mana segala sesuatu terdiri dari keduanya. Karena itu, dalam segala hal harus ada yang positif dan ada pula yang negatif. Proses pembentukan seluruh makhluk berdiri di atas teori ini. Demikianlah, kita melihat Al-Qur’an telah menjelaskan asas seluruh alam semesta. Allah swt. berfirman, “Dan apakah orangorang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu, keduanya dahulu adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya?” (Al-Anbiya: 30) Wahai Akhi, ini tidak bertentangan dengan teori ilmiah yang mengatakan bahwa langit dan bumi berasal dari satu bahan baku. Al-Qur’an hanya mengemukakan kaidah-kaidah umum yang bisa diterima akal dalam setiap perkembangannya. Allah berfirman, “Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” (Al-Anbiya: 30) Ini merupakan fakta ilmiah yang tidak ada seorang pun yang membantahnya. Allah berfirman mengenai awal penciptaan manusia, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta yang paling baik.”‘ (Al-Mukminun: 12-14) Pembicaraan ini sudah memasuki bidang ilmu kedokteran, yang telah disaksikan oleh para ilmuwan dan tidak mungkin untuk ditentang oleh seorang pun.

Ada beberapa fenomena alam yang ditegaskan dan dikemukakan oleh Al-Qur’an. Contohnya adalah proses terjadinya hujan yang bermula dari uap yang terbentuk karena panas matahari, kemudian digiring oleh angin. Ini tidak bertentangan dengan keterangan Al-Qur’anul Karim. “Tidakkah kalian melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah oleh kalian hujan keluar dari celahcelahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran es) itu kepada siapa yang dikehendakiNya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (An-Nur: 43) Contoh lain adalah firman Allah, “Dan gunung-gunung sebagai pasak?” (An-Naba: 7) “Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak berguncang bersama kalian, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kalian mendapat petunjuk.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s