Golongan Ahlul Bid’ah Pada Masa Awal Perkembangan Islam

Ad-Duruz

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah “Mereka adl pengikut Durzy dia termasuk dari wali- wali Al Hakim Biamrillah. Dia diutus olehnya kepada penduduk Wady At-Taim bin Tsa’labah dan menyerukan kepada penduduk tersebut bahwa Al-Hakim Biamrillah adl ilah. Mereka memberikan nama kepadanya dgn nama Al-Bari Al-‘Allam dan bersumpah dgn menyebut nama tersebut. Mereka dari Al-Isma’iliyyah yg mengatakan bahwa Muhammad bin Isma’il menghapus syari’at yg dibawa oleh Nabi Muhammad bin Abbdillah j. Kekafiran mereka lbh tinggi dari golongan Gholat. Mereka mengatakan tentang dahulunya alam semesta dan mengingkari akherat. Mereka mengingkari kewajiban-kewajiban dan perkara yg diharamkan dalam Islam. Perkataan mereka tersusun dari faham filsafat-filsafat dan golongan Majusy.

Mereka mendhohirkan dgn nama atau madzhab Syi’ah yg pada hakekatnya adl munafiq.Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata “Kekafiran mereka adl perkara yang tidak diperselisihkan di antara kaum muslimin. Bahkan barangsiapa yg ragu terhadap kekufuran mereka dia dihukumi kafir seperti mereka. Kekafiran mereka tidak sama kedudukannya dgn golongan ahlul kitab dan orang-orang musyrik akan tetapi lbh daripada itu mereka adl golongan yg kafir dan sesat. Haram memakan makanan mereka menawan wanita-wanita mereka halal harta benda mereka. Sesungguhnya mereka adl zindiq-zindiq yang murtad. Tidak diterima taubat mereka diperangi apabila mereka melawan dilaknat sebagaimana sifat mereka. Haram menjadikan mereka sebagai pengawal penjaga pintu gerbang dan pengaman atau pemelihara wajib membunuh ‘ulama dan orang-orang sholih dari kalangan mereka agar tidak menyesatkan yg lainnya…”

An Nashiriyah

Golongan ini dinasabkan kepada Muhammad bin Nashir An-Namiry yg hidup pada tahun ketiga hijriyah. Meninggal pada tahun 270 H. Dia hidup semasa dgn tiga imam Syi’ah yg keseluruhannya berjumlah 12 imam. Ketiga imam tersebut adl Ali Al-Hadi Al-Hasan, Al‘Askary dan Muhammad Al-Mahdi.Ibnu Nashir mendakwa dirinya sebagai gerbang kedua masuk ke Al-Imam Al-Hasan dan sebagai hujjah bagi orang-orang sesudahnya. An-Nashiriyah menganggap bahwa sesungguhnya Alloh menitis kepada diri ‘Ali bin Abi Tholib pada waktu-waktu tertentu.

Mereka mengangkat ‘Ali bin Abi Tholib dan imam-imam sesudahnya ke martabat uluhiyyah.Mereka mengatakan faham penitisan ruh mengkafirkan shohabat Abu Bakar Ash-Shiddiq dan ‘Umar bin Khoththob ikut merayakan A’yad agama Kristen tidak menjalankan puasa Romadlon. Sholat lima waktu bagi mereka adl sebagai rumus/simbol utk ‘Ali bin Abi Tholib dan kedua anaknya Muhsin dan Fathimah. Surga menurut mereka sebagai rumus utk keni’matan dan neraka sebagai rumus utk adzab. Mereka menghalalkan khomr.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata ketika ditanya tentang golongan An-Nashiriyah “Alhamdulillahi Robbil’alamin mereka yg menamakan dirinya kaum An-Nashiriyah adl kelompok Al-Qoromithoh Al-Bathiniyyah lbh kafir dari golongan dari musyrikin. Karena mereka mendhohirkan dirinya di hadapan orang-orang awam dan bodoh pada kaum muslimin dgn nama atau madzhab Syi’ah dan memberikan wala’/loyalitas kepada ahlul bait. Tetapi pada hakekatnya mereka adl golongan yg tidak beriman kepada Alloh rosul dan kitab-Nya. Mereka tidak beriman kepada perintah dan larangan- Nya pahala adzab surga neraka seluruh para rosul sebelum Muhammad dan seluruh agama-agama terdahulu .

Saat sekarang golongan An-Nashiriyah berada di utara Syiria tepatnya di daerah gunung yang dikenal dgn gunung An-Nashiriyah demikian juga mereka tersebar dgn bilangan yang sedikit di daerah Turki Alepo dan sekitarnya Palestina serta Libanon.

Ad-Duruz pada saat ini ada di daerah Suriya Libanon dan Palestina. Jumlah mereka kurang lbh 150-200 ribu jiwa. Mereka dari keturunan tak dikenal. Sebagian dari ahli sejarah berkeyakinan bahwa Ad-Duruz adl sekelompok orang yg tersisa pada masa dahulu.B.Al-Imamiyyah atau Rofidloh.Mereka dinamakan Rofidloh disebabkan krn rofdl atas dua imam yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq dan Umar bin Khoththob. Berkata Abdulloh bin Ahmad “Aku bertanya kepada bapakku siapakah Rofidloh itu ?’ Beliau menjawab ‘Mereka adl orang-orang yg mencaci maki Abu Bakar Ash-Shidiq dan Umar bin Khoththob .”Rofidloh terpecah menjadi sekian banyak golongan sebagian para ulama menyebutkan bahwa mereka terpecah menjadi 15 golongan.Mereka bersepakat bahwa sesungguhnya Rosululloh j mengangkat dirinya dan mengganti kedudukan Ali bin Abi Tholib dgn namanya.

Mereka mendhohirkan dan mengumumkan perkara tersebut. Dan sesungguhnya kebanyakan para shohabat adl sesat krn meninggalkan utk mengikuti dia setelah sepeninggal Rosululloh j. Sesungguhnya Imamah tidak bisa diberikan kecuali dgn pengangkatan pemberhentian dan adanya hubungan kekeluargaan.Termasuk kesepakatan Al-Imamiyyah atau Rofidloh sebagaimana disebutkan oleh syaikh mereka yaitu Al-Mufid yg mengatakan: Al-Imamiyyah atau Rofidloh telah sepakat bahwa wajibnya atau kepastiannya roj’ah orang-orang yg telah mati ke dunia sebelum hari kiamat meskipun terjadi perselisihan di antara mereka tentang arti roj’ah. Mereka memutlakkan sifat Al-Bada’ {keyakinan yg menafikan ilmu Alloh yaitu Alloh tidak mengetahui suatu perkara pada makhluqnya kecuali sesudah terjadi} kepada Alloh. Mereka bersepakat bahwa para imam yg sesat itu menyelisihi dalam menulis Al-Quran. Dan telah terjadi ijma’ antara Mu’tazilah Khowarij Zaidiyyah dan Ash-habul Hadits bahwa mereka keseluruhannya berselisih dgn imamiyyah dalam seluruh perkara yg ada pada kami.

Rofidloh banyak dicela di kitab-kitab salaf mereka adl golongan yg paling jahat diantara golongan-golongan yg lainnya dgn tujuan utk memperingatkan umat darinya. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam mensifati mereka: tidak ada golongan-golongan sesat yg menyandarkandirinya kepada Islam yg mereka semua penuh dgn kebid’ahan dan kesesatan yg lbh jahat daripada Rofidloh. Bahkan golongan Rofidloh adl golongan yg paling bodoh dusta dholim dekat dgn kekufuran kefasikan dan kemaksiatan dan paling jauh dari hakekat keimanan dari seluruh golongan-golongan sesat yg ada. Orang-orang Rofidloh dihukumi dgn dua hukum yg pertama munafiq atau yg kedua jahil dgn apa yg telah datang dari Rosululloh j. Jadi seseorang tidak dikatakan sebagai Rofidli dan Jahmi kecuali dia adl seorang munafiq atau jahil dari syariat yg dibawa oleh Rosululloh.Adapun hukum pengkafiran mereka telah disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah “Bahwa sesungguhnya para ulama Ahlus Sunnah menghukumi mereka dan golongan Khowarij dgn dua pendapat yg masyhur. Dan yg shohih dari kedua pendapat tersebut bahwa perkatan mereka yg menyelisihi apa yg telah datang dari Rosululloh j adl kufur demikian juga perbuatan mereka termasuk jenis dari perbuatan yg dilakukan orang-orang non muslim ini juga dihukumi kufur. Akan tetapi mengkafirkan satu-persatu dari mereka dgn mengatakan kekalnya dia di neraka misalnya harus di atas prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dari syarat- syarat pengkafiran tersebut”.

Al-Qodariyah

Mereka adl golongan yg mengingkari ilmu Alloh terhadap perbuatan-perbuatan hamba-Nya sebelum terjadi. Mereka mengatakan bahwa Alloh tidak menakdirkan dan tidak mengetahui perbuatan yg dilakukan oleh seorang hamba Alloh mengetahui setelah perbuatan itu terjadi/dilakukan.Mereka juga mengatakan bahwa sesungguhnya Alloh tidak menciptakan dan berkuasa atas perbuatan hamba-Nya. Diriwayatkan oleh Al-Lalikai dari Imam Syafi’i sesungguhnya dia mengatakan: ”

Al-Qodary adl seseorang yg mengucapkan bahwa sesungguh-Nya Alloh tidak menciptakan sesuatu perbuatan sampai perbuatan itu dilakukan”.Diriwayatkan juga oleh Abu Tsaur dia mengatakan ketika ditanya tentang golongan Al-Qodariyah: ”Mereka adl orang-orang yg mengatakan bahwa sesungguhnya Alloh tidak menciptakan perbuatan hamba-Nya Alloh tidak menakdirkan dan menciptakan perbuatan maksiat”.Disebutkan oleh Imam An-Nawawi bahwa mereka dinamakan Al-Qodariyah krn disebabkan pengingkarannya kepada taqdir dan sebagian lainnya menyebutkan krn mereka mengatakan bahwa manusia berkuasa penuh atas apa yg mereka perbuat.Orang pertama yg mengatakan faham Al-Qodariyah adl Ma’bad Al-Juhany ada generasi akhir Shohabat Rosululloh j.Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Yahya bin Ya’mar sesungguhnya dia berkata: “Orang pertama yg mengatakan faham Al Qodariyah adl Ma’bad Al-Juhany di Bashroh”.Ma’bad mengambil faham dan perkataan tersebut dari seorang laki-laki yg beragama Nashrani bernama Sausan dan perkataan Ma’bad diambil/diwarisi oleh Gailan Ad-Dimsyiqy.Sebagaimana riwayat dari Imam Al-Auza’i beliau berkata: “Orang pertama yg mengatakan faham Al-Qodariyah adl seorang laki-laki penduduk negeri Iraq yg bernama Sausan dia adalah seorang Nashroni yg masuk Islam kemudian kembali menjadi Nashrani. Perkataannya diambil oleh Ma’bad Al-Juhany kemudian perkataan Ma’bad diambil oleh Gailan Ad-Dimsyiqy”

Pokok dasar bid’ah Al Qodariyah terbagi menjadi dua macam:

  • Pengingkaran terhadap ilmu Alloh sebelum terjadinya sesuatu yaitu Alloh tidak mengetahui perbuatan hambanya sampai perbuatan itu terjadi.
  • Sesungguhnya seorang hamba itu yg telah mengadakan/menciptakan perbuatannya sendiri.

Para ulama menyebutkan bahwa sesungguhnya madzhab Al-Qodariyah telah musnah sebagaimana dinukil oleh Ibnu Hajar dari Imam Qurthubi dia berkata: ”Madzhab ini sungguh telah musnah kami tidak mengetahui seseorang pada generasi akhir yg menasabkan kepadanya .

Adapun pada saat ini Al-Qodariyah mereka bersepakat bahwa sesungguhnya Alloh mengilmui perbuatan hamba-Nya sebelum terjadi akan tetapi mereka menyelisihi manhaj Salaf dalam perkara yg mereka anggap dan yakini yaitu: Bahwa seorang hamba berkuasa penuh dalam perbuatannya dan apa yang diperbuat oleh seorang hamba itu diatas kekuasaanDiriwayatkan juga oleh Abu Bakar Al- Marrudzi bahwa dia berkata: ”Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang orang yang berfaham Al-Qodariyah beliau tidak mengkafirkan apabila menetapkan ilmu Alloh”.Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menerangkan perkataan para ulama Salaf {Ahlussunnah wal Jama’ah} dalam menghukumi pengkafiran Al-Qodariyah: ”Mereka yg menafikan pencacatan dan ilmu Alloh maka para ulama mengkafirkannya adapun yg menetapkan ilmu Alloh tetapi tidak menetapkan bahwa Alloh telah menciptakan perbuatan-perbuatan hambanya para ulama tidak mengkafirkannya”.

Az-Zaidiyah

Golongan Az-Zaidiyah adl pengikut Zaid bin ‘Ali bin Al-Husain bin ‘Ali bin Abi Tholib. Mereka menyerahkan atau menguasakan kepemimpinan kepada anak-anak Fatimah tidak diperbolehkan kepemimpinan diserahkan kepada selain mereka yaitu keturunan Fatimah yg ‘alim pemberani dan murah hati/dermawan maka wajib mentaatinya sebagai imam. Baik dari keturunan Al-Hasan atau Al-Husain. Disebutkan oleh Abul Hasan Al-Asy’ary bahwa Az-Zaidiyah terbagi menjadi 6 golongan.Golongan Az-Zaidiyah telah sepakat bahwa Ash-Habul Kabair mereka diadzab di neraka dan kekal di dalamnya pembenaran terhadap Kholifah ‘Ali bin Abi Tholib dan menyalahkan shohabat yg menyelisihinya disaat terjadi peperangan Kholifah ‘Ali bin Abi Tholib telah benar keputusannya dalam perkara yg berkaitan dgn 2 hakim .Mereka juga bersepakat bolehnya mengangkat pedang kepada Imam yg lalim dan menghilangkan kedzolimannya tidak bolehnya sholat dibelakang orang yg terjerumus dalam perbuatan maksiat shohabat ‘Ali bin Abi Tholib lbh utama dari seluruh shohabat Rosululloh j dan tidak ada shohabat setelah Nabi j yg lbh utama darinya.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s