Di Manakah Allah?

SEJAK menikah dengan perempuan pilihan hati, saya pernah berikrar bahwa pondasi agama mesti terpancang dalam bingkai rumah tangga. Begitu pula jika nanti satu persatu buah hati kami terlahir ke dunia, kami pun berikrar bahwa pondasi tauhid adalah yang pertama ditanamkan. Gambarannya, kami hanya mengikuti sunnah Rasulullah Saw. yang mengumandangkan azan dan ikamah di telinga kanan dan kiri kedua cucu beliau, Hasan dan Husein r.a.

Dan, Alhamdulillah, langkah pertama dari pondasi tauhid yang ingin kami tanamkan, telah saya tunaikan. Seperti baginda Rasulullah Saw., saya pun melamatkan azan dan ikamah di telinga kanan dan kiri kedua putri kami yang terlahir kembar, Taqiya Fairuz Zakiyya dan Tsaqiva Zahrotul Firdausy. Keduanya terlahir dengan sehat disertai tangisan yang membahana, saling bersahutan.

Tak terasa tiga tahun lebih enam bulan telah berlalu. Keduanya tumbuh menjadi putri-putri cantik yang menggemaskan siapa pun yang melihatnya. Tingkah keduanya seenerjik celotehnya. Kini, apapun yang dilihat atau didengar keduanya akan menjadi pertanyaan. Kata orang, sih, keduanya cerewet karena banyak bertanya, meski pada beberapa penggal kata selalu hilang hurup r. Segala puji bagi-Mu yang telah mengaruniakan dua buah hati yang menjadi qurrata ayun bagi kami.

Dalam setiap kesempatan bercengkarama dengan keduanya, kami mencoba untuk menghadirkan Allah. Misalnya, ketika keduanya makan, kami ajarkan doa sebelum makan dan sesudahnya. Begitu pula ketika hendak tidur dan bangun, kami pun tak lupa mengajak keduanya berdoa. Atau pada kesempatan lain, saat mengajak keduanya berkeliling menghirup udara segar di pagi atau malam hari, kami tak lupa mengatakan, Nak, ucapkan Alhamdulillah, karena Allah telah memberikan udara yang sangat segar buat kita.

Sang Maha Pencipta, Allah Azza Wa Jalla, pun selalu kami hadirkan di tengah-tengah kegalauan kedua buah hati kami, ketika keduanya meminta sesuatu yang belum mampu kami berikan. Biasanya, kami akan berujar, Nak, sekarang mari kita berdoa, semoga Allah memberikan apapun keinginan kalian. Umumnya, rengekan mereka pun akan mereda dan berganti menengadahkan tangan untuk berdoa.

Hari Minggu kemarin ketika kami mengajak Qiya dan Qiva, panggilan akrab keduanya, berkeliling di sekitar danau yang ada di dekat rumah, saya mengenalkan keindahan seekor capung yang hinggap di ujung rerumputan. Saya katakan, Nak, itu ciptaan Allah lainnya. Namanya capung. Indah sekali bukan? Dia bisa terbang seperti kupu-kupu. Perkenalan dengan capung itu membuat keduanya senang bukan main. Jika sudah begitu, seperti biasanya dengan serentak mereka akan berteriak, Waah, hebat sekali Allah itu, ya, Ayah?

Keindahan capung yang telah dikenal, pada akhirnya menggiring mereka pada banyak pertanyaan. Setelah diberondong pertanyaan ini, itu, dan lainnya, saya terhenyak sesaat pada sebuah pertanyaan yang dilontarkan si Dede (adik, bhs. sunda), Qiva: Ayah, kalau Allah itu hebat, berarti Allah seperti Spiderman. Allah pakai topeng, ya, Ayah? Belum sempat kaget saya hilang, Qiya, si Teteh (kakak, bhs. sunda), bertanya, Allah itu laki-laki, ya, Ayah? Saya tertegun sejenak. Bagaimana harus memberikan pengertian kepada keduanya tentang Allah? Agar tidak muncul lagi pertanyaan berikutnya, kemudian saya jawab, Ooh, tidak begitu, Teteh, Dede. Allah itu lebih hebat dari Spiderman. Nanti, deh, Ayah ceritakan di rumah.

*****

Pencarian Tuhan: Sejak Jaman Dahulu
Pencarian tentang hakikat Tuhan telah berlangsung sejak peradaban manusia ini dipancangkan. Kita pasti ingat tentang kisah Nabi Ibrahim a.s. yang meraba-raba wujud Tuhan. Saat malam dipenuhi bintang, Nabi Ibrahim a.s. menyangka jika bintang itulah Tuhan, karena indahnya bukan main. Namun, ketika bulan purnama tampil dengan sinar dan keindahannya, beliau pun mengubah hipotesanya dengan mengatakan bulan itulah Sang Tuhan, Saya tidak suka kepada bintang yang tenggelam. Inilah Tuhanku yang sebenarnya.

Dus, ketika bulan pun tenggelam ditelan fajar yang menyingsing di ufuk timur, Ibrahim pun kecewa seraya berkata, Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Ibrahim tertunduk memerhatikan Tuhannya terantuk mega di jelang siang.

Kisah pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim a.s. berlanjut hingga hari semakin benderang. Di sebuah pagi, beliau memerhatikan matahari mampu mengalahkan sinar bulan yang merajai malam. Sedikit siang, sinar matahari semakin terik dan menjelajahi permukaan bumi dengan terangnya. Gemilang cahaya matahari membuatnya takjub. Nabi Ibrahim a.s. pun kembali mengubah hipotesanya dengan mengatakan jika matahari inilah Tuhan yang sebenarnya. Oooh, inilah Tuhanku. Ini yang lebih besar.

Ibrahim yang kagum pada Tuhannya yang baru saja ditemukan, kembali harus menelan kekecewaan. Saat matahari terbenam, Ibrahim kembali tertunduk menyaksikan Tuhannya ditelan lembayung yang segera menghadirkan malam. Ibrahim cepat tersadar dan segera meyakini bahwa Tuhan bukanlah bintang, bulan, atau matahari. Beliau meyakini bahwa pasti ada Zat yang mampu mengendalikan terbit maupun tenggelamnya bintang, bulan, dan matahari. Beliau berkata, Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.

Keyakinan Ibrahim adalah keyakinan seorang hamba yang cerdas menganalisis kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Beliau menyangsikan berhala-berhala sesembahan kaumnya yang sama sekali tak memilik daya maupun upaya. Keyakinan Ibrahim yang diabadikan dalam QS Al-Anam ayat 76-79 tersebut, menjadi titik mula kepercayaan agama samawi yang melahirkan tiga agama besar dunia yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam yang mengajarkan manusia kepada Tuhan yang sebenarnya yaitu Allah Yang Maha Esa.

Allah memberi petunjuk kepada Nabi Ibrahim karena Nabi Ibrahim memakai akal dan hatinya dalam mencari Tuhan. Secara akal Tuhan tidaklah dibuat seperti berhala tetapi dia berdiri sendiri. Tuhan tidaklah mati tetapi Dia yang menghidupkan dan mematikan. Tuhan tidak hilang ditelan waktu karena Dia ada selamanya. Tuhannya hanyalah satu dan tidak banyak, karena Dialah Satu-satunya Maha Pengatur. Itulah Tuhannya Ibrahim yang bisa dirasakan dengan akal dan hati.

Allah Ada di Atas Arasy?
Eksistensi Tuhan, umum dipahami orang berada di tempat yang paling tinggi dari jagad ini. Pemahaman itulah yang menggiring setiap orang untuk latah mengucapkan: Ah, saya mah terserah yang di atas saja. Seolah-olah Allah memang berdomisili di atas nun jauh di sana, yang keberadaannya sangat sulit dijangkau. Bukankah Allah bersemayam di atas Arasy yang letaknya di atas langit ketujuh? seorang teman mengemukakan argumentasinya. Mungkin, argumentasi seperti ini pula yang menjadi landasan bagi orang-orang yang setiap kali berdoa selalu menengadahkan tangannya atau mendongakkan kepalanya ke atas.

Asal-usul pernyataan Allah berada di atas, boleh jadi mengacu pada keterangan yang dibeberkan QS Tha-Ha [20]: 5: (yaitu) Tuhan yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas Arasy. Atau pada QS Ar-Rad [13]: 2 yang berbunyi:

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.

Hingga kini, keberadaan Arasy pun masih belum ada penjelasannya, meski sering kita dengar jika Arasy berada di langit ketujuh. Lantas, jika Allah berada di Arasy, seberapa besarkah Arasy itu, sehingga Arasy mampu mewadahi Zat Allah? Bukankah Allah Maha Besar dan Maha Tinggi, sehingga Dia tak mungkin diwadahi oleh apa pun? Wallahu alam bish shawab.

Allah Ada di Surga?
Seperti halnya Nabi Ibrahim a.s., pertanyaan tentang siapa Allah dan di mana keberadaan-Nya, kadang berputar dalam benak kita. Bahkan, bagi para pencari tuhan, dua pertanyaan di atas sering berputar dalam benak mereka. Meski bagi sebagian orang dianggap nyeleneh, namun hal tersebut juga dianggap manusiawi. Akal yang dikaruniakan Allah menjadi alat analisis yang selalu ingin tahu akan segala hal.

Di kalangan umat Nasrani, keyakinan tentang keberadaan Tuhan kerap dianggap selesai, dengan seringnya mereka mengatakan Bapa kami yang berada di surga. Coba saja perhatikan, penganut agama ini, dalam setiap doanya kerap mengucapkan sebaris kalimat tadi.

Di kalangan Muslim, anggapan bahwa Allah berada di surga pun menjadi hal biasa. Sebagai tempat paling indah selepas pengembaraan manusia melakoni perannya di dunia, surga menjadi tujuan setiap manusia untuk mendulang kebahagiaan hakiki yang diberikan Allah sebagai balasan bagi hamba-hamba-Nya yang benar-benar menyembah-Nya secara ikhlas.

Bagi kalangan Muslim yang menganggap keberadaan Allah di surga, boleh jadi karena merujuk pada Hadis Qudsi berikut:
Dari Syuhaib r.a. dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Ketika penghuni sorga masuk ke sorga”, beliau bersabda: “Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman: “Kamu menghendaki agar aku menambahkah sesuatu untukmu?” Mereka berkata: “Tidakkah Engkau mencemerlangkan wajah kami? Tidakkah Engkau memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?”. Rasulullah Saw. bersabda: “Maka dibukalah tirai dan tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka sukai dari pada melihat Tuhan mereka”. (Hadis ditakhrij oleh Muslim).

Pertemuan antara hamba dan Sang Khaliq di surga kelak, seperti yang diutarakan hadis di atas, menjadi landasan bahwa Allah memang berada di surga, sehingga saat perjumpaan kelak pun akan dilakukan di tempat yang indah tersebut. Namun, jika Allah berada di surga, lantas, apakah surga lebih besar dibandingkan Allah yang Maha Besar? Wallahu alam bish shawab.

Allah ada di Baitullah?
Dalam sebuah riwayat dikisahkan betapa Umar bin Abi Khattab sangat menentang apapun bentuk penghambaan terhadap berhala atau sesuatu objek peribadatan selain Allah Swt. Begitu pula saat ia diperintahkan untuk berhaji dan thawaf, mengelilingi Kabah serta shalat di hadapannya. Ada perasaan yang mengganjal hatinya ketika melakukan itu semua. Namun, keteguhan dan keyakinan pada ajaran yang dibawa Rasulullah Saw. menghapus segala keraguan dan ganjalan hatinya. Umar bin Abi Khattab secara ikhlas melakukan ibadah di hadapan Kabah dengan tetap terfokus untuk menyembah Allah Azza wa Jalla, bukan menyembah sebongkah batu hitam yang besar itu.

Kabah yang disebut sebagai Rumah Allah (Baitullah) merupakan bangunan peribadatan yang paling awal di dunia ini. (QS. Ali Imran [3]: 96). Pondasinya kemudian ditinggikan pada masa Nabi Ibrahim a.s. dengan mengajak Ismail. (QS. Al-Baqarah [2]: 127). Inilah bangunan yang Allah jadikan sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia. (QS. Al-Maidah [5]: 97). Dengan beribadah menghadap Kabah, hakikatnya bukanlah menyembah Kabah, tetapi menyembah pemilik Kabah, yaitu Allah Azza wa Jalla. (QS. Quraisy [106]: 3).

Tidak ada satu pun dalil yang menyebutkan bahwa Allah tinggal di Baitullah. Allah adalah Pemilik Baitullah, bukan berarti Dia tinggal di bangunan suci itu. Anggapan Baitullah sebagai Rumah Allah, setidaknya sama dengan anggapan setiap masjid adalah Rumah Allah. Seperti halnya Baitullah, masjid pun menjadi pusat peribadatan dan urusan dunia yang disucikan. Wallahu alam bish shawab.

Allah berada di hati kita?
Satu lagi anggapan tentang keberadaan Allah menyatakan bahwa Allah berada di hati setiap hamba-Nya, bahkan lebih dekat daripada urat lehernya. Anggapan itu bersandar pada firman Allah:

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (QS. Qaf [50]: 16).

Seorang teman yang sama-sama tengah membahas masalah ini bertanya, lantas, jika Allah berada di hati setiap hamba-Nya, berarti Dia lebih dari satu? Bukankah hal itu bertentangan dengan akidah Islam yang menyatakan bahwa Allah itu Esa? Dengan pertanyaan teman ini, anggapan bahwa Allah berada di hati setiap hamba-Nya tidak dapat diterima. Wallahu alam bish shawab.

*****

Sejumlah anggapan di atas, boleh jadi, telah lama berputar dalam benak kita. Sebagian dari Anda mungkin menganggap percuma saja pertanyaan-pertanyaan tentang hakikat keberadaan Allah, toh, kita hanya diwajibkan menyembah-Nya, di mana pun keberadaan-Nya yang ghaib itu. Namun, bagi Anda yang kerap terusik dengan pengetahuan tentang Allah, pertanyaan seputar keberadaan Allah, boleh jadi, mewakili kegelisahan Anda selama ini.

Pertanyaannya adalah, jika keberadaan Allah tidaklah di atas Arasy, bukan di surga, tidak di Baitullah maupun di hati setiap hamba-Nya, lantas, di manakah Allah berada?

Untuk menjawabnya, saya ingin mengutip sebuah tulisan Asfa Davy Bya, dalam bukunya Sebening Mata Hati dan mengajak Anda pada sebuah kisah yang terjadi di zaman Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Setidaknya, kisah ini menjadi awal pelajaran bagi kita untuk mengetahui keberadaan Allah Azza wa Jalla. Berikut kisahnya:

Pada suatu saat, sekelompok pendeta Yahudi mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. dan bertanya, Apakah kamu khalifah umat ini? Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. menjawab, Benar. Mereka kembali bertanya, Beritahukan kepada kami tentang Allah Swt., di mana Dia berada, di langit atau di bumi? Dia berada di langit, di atas Arasy, jawab Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.
Jika demikian, bumi kosong dari-Nya dan berarti Allah berada di suatu tempat dan tidak di tempat yang lain? bantah mereka. Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. kemudian menjawab, Ini adalah ucapan orang-orang Zindik (ateis). Pergilah dariku! Kalau tidak, maka aku akan membunuh kalian! perintah Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. Para pendeta Yahudi ini pun seketika berlalu dari hadapan khalifah pertama umat Islam ini.

Di tengah jalan, mereka bertemu dengan Ali bin Abi Thalib k.w. (karramallahu wajhahu). Melihat kedatangan para pendeta Yahudi tersebut, Ali bin Abi Thalib k.w. kemudian berkata, Aku sudah tahu apa yang kalian tanyakan dan kamu bantah, dan sekarang aku katakan bahwa Allah Azza wa Jalla yang mengadakan mana (tempat), karena itu mana tidak berarti bagi-Nya. Dia sangat tinggi untuk diliputi tempat. Dia ada di segala tempat tanpa bersentuhan dan bergandengan. Dia mengetahui segala yang ada pada-Nya. Tidak ada sesuatu pun ya ng lepas dari pengawasan-Nya. Dan akan kuberitahukan kepada kalian tentang yang tersurat dalam salah satu kitab kalian yang membenarkan apa yang kukatakan tadi. Jika kalian tahu, apakah kalian akan percaya?

Silakan! jawab mereka.

Tidakkah kalian membaca dalam sebagian kitab kalian bahwa Musa bin Imran a.s. suatu hari pernah duduk, tiba-tiba datang kepadanya malaikat dari arah timur, lalu Musa bertanya, Dari mana kamu datang? Malaikat menjawab, Dari Allah Swt. Kemudian datang lagi malaikat dari arah barat, dan Musa a.s. kembali bertanya, Dari mana kamu datang? Malaikat menjawab, Dari Allah Swt. Kemudian datang lagi malaikat dari langit ketujuh dan berkata, Aku datang dari langit ketujuh, dari Allah Swt. Dan ada pula malaikat lain yang berkata, Aku datang dari bawah bumi yang paling bawah, dari Allah Swt. Kemudian Musa a.s. berkata, Mahasuci yang tiada tempat yang kosong dari-Nya dan tiada satu tempat yang lebih dekat kepada-Nya daripada tempat lain. Mendengar jawaban Ali bin Abi Thalib k.w. tersebut, seketika para pendeta Yahudi itu pun berkata, Kami bersaksi bahwa itu benar!

Jawaban yang dilontarkan Ali bin Abi Thalib k.w. memberikan paparan jelas betapa semesta alam ini merupakan ciptaan Allah dan Dia mengetahui segala sesuatu. Dalam paparan Ali bin Abi Thalib k.w. pun kita akhirnya mengetahui bahwa eksistensi Allah meliputi segala sesuatu!

Allah Azza wa Jalla berfirman, Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah (pengetahuan) Allah Maha Meliputi segala sesuatu, (QS. An-Nisa [4]: 126).

Berdasarkan penjelasan di atas, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa Allah Azza wa Jalla tidak hanya berada di atas Arasy, tidak hanya di bawah lapisan bumi terbawah, tidak hanya di langit, tidak hanya di surga, tidak hanya di Kabah Baitullah, tidak pula hanya di hati hamba-hamba-Nya. Allah Azza wa Jalla meliputi segala yang ada. Hal ini berarti pula bahwa Allah sekaligus berada di dunia juga di akhirat, di surga juga di neraka, di langit juga di bumi, berada di hati kita juga setiap makhluk-Nya. Allah Azza wa Jalla bersama setiap benda yang nyata maupun tidak nyata di alam semesta ini. Tidak ada satu tempat pun yang luput dari keberadaan Allah Swt., karena Dia meliputi segala ciptaan-Nya!

Hal ini juga ditegaskan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya:
Dan kepunyaan Allah lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap, di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui, (QS. Al-baqarah [2]: 115).

Keberadaan Allah, mutlak di setiap tempat. Tidak ada sebuah ruang kosong pun yang tidak disertai Allah di dalamnya. Jika Allah Azza wa Jalla bersama saya, begitu pula, Allah tengah bersama Anda, sekaligus berada di ruang antara saya dan Anda dan juga mengisi ruang di luar kita. Dia berada di mana-mana dalam waktu yang bersamaan.

Lagi pula, pertanyaan yang diawali dengan di mana, membutuhkan jawaban sebuah tempat atau sesuatu yang berada dalam sebuah ruang. Jadi, jika ada pertanyaan: Di manakah Allah berada?, sesungguhnya tidaklah tepat, karena Allah tidaklah berada pada sebuah ruang, karena Allah meliputi ruang itu. Allah Azza wa Jalla pun tidak terikat dalam dimensi waktu, tetapi sebaliknya dimensi waktulah yang terikat pada Allah. Sekali lagi, Allah Azza wa Jalla meliputi segala sesuatu, sehingga Dia mengetahui apa pun yang yang terjadi pada sesuatu itu.

Setelah kita menyadari bahwa Allah berada sangat dekat dengan kita, sejatinya, kita tersadar bahwa apa pun tindak-tanduk kita pasti tidak lepas dari pengamatan Allah Azza wa Jalla. Adalah benar, bahkan, sangat benar jika pada Hari Perhitungan kelak, Allah akan membeberkan secara detail apa yang telah dilakukan kita, baik yang terlihat maupun yang tersirat jauh di lubuk hati kita, baik yang disengaja maupun yang tidak di sengaja.

*****

Menghadirkan Allah dalam Setiap Kesempatan
Menyadari betapa Allah sangat dekat dengan hamba-Nya, sejatinya, dapat dimanfaatkan menjadi jalinan hubungan yang harmonis. Kita tidak perlu mencari Allah ke berbagai tempat, karena Dia hadir di mana pun kita berada dan dalam kondisi apa pun. Kehadiran-Nya tergantung pada upaya kita untuk menghadirkan-Nya. Aku jauh, Engkau jauh. Aku dekat, Engkau dekat.. sebaris syair lagu yang dinyanyikan grup band Bimbo menjadi pijakan bagi kita untuk menghadirkan Allah dalam setiap kesempatan.

Menemui Allah, sejatinya, tidaklah sulit, bahkan sangat mudah. Allah sendiri telah memberikan kunci bagaimana cara menemuinya. Dalam sebuah Hadis Qudsi Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Apabila hamba-Ku senang bertemu dengan-Ku, maka Aku senang untuk bertemu dengan-Nya, apabila ia benci bertemu dengan-Ku, maka Aku benci bertemu dengannya, (Hadits ditakhrij oleh Bukhari).

Hadis Qudsi di atas sangat jelas mengatakan bahwa kehadiran Allah sangat tergantung kepada hamba-Nya yang ingin menemui-Nya dan membutuhkan-Nya. Allah adalah Sang Maha Perkasa yang tidak membutuhkan siapa pun, dan hanya kepada-Nya saja setiap hamba menggantungkan nasibnya.

Cepat tidaknya Allah menemui hamba-Nya tergantung seberapa cepat seorang hamba menemui-Nya. Kesungguhan dan keikhlasan seorang hamba menjadi syarat mutlak dalam upaya ini. Lebih lanjut, dalam Hadis Qudsi yang lain, Allah Azza wa Jalla kembali menegaskan kunci untuk menemui-Nya:

Aku menurut sangkaan hamba-Ku dan Aku senantiasa bersamanya selama ia mengingat-Ku. Demi Allah, Dia lebih senang menerima taubat hamba-Nya melebihi senangnya seseorang di antara kalian yang menemukan kembali barangnya yang telah hilang di tengah padang pasir. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat kepada-Nya sehasta dan siapa saja yang mendekat kepadaku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari, (HR Muttafaqun Alihi).

Subhanallah! Betapa murahnya Allah memberikan kunci untuk menemui-Nya. Kini, tinggal kita, seberapa seriuskah kita menemui-Nya dalam setiap kesempatan? Seberapa ikhlaskah kita dalam melaksanakan ketaatan kepada-Nya?

*****

Nak, Allah itulah yang menciptakan Ayah, Bunda, Teteh, dan Dede. Allah juga yang telah menciptakan matahari, bulan, bintang, capung, dan bunga-bunga yang ada di taman itu. Dan Allah tidak sama seperti ciptaan-Nya, jadi Dia itu tidak sama seperti kita, barisan kalimat ini menjadi jawaban atas pertanyaan yang terlontar di danau tadi pagi.

Ooh, begitu, ya, Ayah, kata si Dede sekenanya, entah mengerti atau tidak.

Kenapa Allah tidak sama seperti kita, Ayah? tukas si Teteh.

Karena Allah itu Mahahebat dan Mahasempurna. Jika kita, manusia, saja diciptakan begitu sempurna, maka Allah sebagai Sang Maha Pencipta pasti lebih sempurna dari kita, jawab saya.

Waah, hebat sekali Allah itu, Ayah, kata keduanya hampir bersamaan. Dan itulah akhir dari percakapan kami, seorang ayah yang sangat bodoh, yang berusaha untuk memberikan pengetahuan tentang Allah.

Meski pertanyaan tadi terlontar dari mulut mungil dua orang anak balita, namun, bebannya sungguh sangat terasa. Pengetahuan yang sangat minim tentang Makrifatullah (ilmu untuk mengenal Allah) menjadi kendala bagi saya, apalagi harus menjelaskannya dengan mengikuti gaya berpikir anak-anak. Dan biasanya, setelah menjelaskan hal seperti itu, saya hanya bisa ber-istighfar memohon agar kesalahan yang tertera dalam penjelasan tersebut diampuni oleh-Nya.

Untuk anak-anak dan juga diri kita, seyogianya kita terus berdoa, bersimpuh dengan penuh harap kepada-Nya agar Allah Azza wa Jalla melimpahkan cahaya hidayah dalam meniti jalan ketakwaan. Ilahy anta maqshud wa ridlka mathlb, athin mahabbataka wa marifataka (Ya Tuhanku, Engkaulah tujuan hidupku, keridaan-Mu lah yang kuharap, karuniakanlah cinta dan makrifat-Mu kepadaku). Allahu alam bish-shawab.

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s