SPANDUK ISRA MI’RAJ

ntoh Desain Banner Isra Mi’raj

Assalamu’alaikum gan pada kesempatan ini saya posting contoh Desain Banner Isra Mi’raj

| Meninggalkan komentar

isra mi’raj

YAYASAN MARHAMAH

PANITIA PERINGATAN ISRO MI’ROJ 1438 H

YAYASAN MARHAMAH

RT 01 RW 01 KREO LARANGAN ( RUMAH H. MARGANI MUSTAR )

TANGERANG KOTA 1556

 

No        : 01/MARHAMAH/IV/2017                                                                      Tangerang, 10 April  2017

Lamp    : –

Perihal  : Undangan Peringatan Isro Mi’roj 1438 H

 

Kepada Yth;

Bapak/Ibu

Di  Tempat

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya kepada kita semua, shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang setia, sehingga kita dapat menjalankan aktifitas sehari-hari dengan baik dan lancar.

 

Dalam rangka Memperingati Isro Mi’roj 1438 H/2017 M maka kami Yayasan Marhamah warga Kreo Jl. Khairil Anwar (Rumah H. Margani Mustar ) mengundang Bapak/Ibu untuk menghadiri acara kami yang insya Allah akan dilaksanakan pada :

 

Hari/tanggal      : Senen, 24  April 2017

Waktu               : 19:30    s/d   Selesai

Tempat             : Rumah H. Margani Mustar

Jl. Khairil Anwar N0.20 Rt.01 Rw.01 Kreo Larangan Tangerang Kota 1556

 

Acara                :

1. Loncing Rumah Qur’an

  1. Sambutan
  2. Pembacaan Qalam illahi
  3. ceramah isra mi’raj KH.MASTURI LC MA

 

 

Demikian surat undangan ini kami sampaikan, besar harapan kami semoga Bapak/Ibu bisa berkenan untuk menghadiri acara kami tersebut. Atas perhatiannya kami ucapkan banyakterima kasih.

 

Wassalamualikum Wr, Wb.

 

 

Ketua Panitia                                                                             Sekretaris

 

 

 

 

Abdul Latif As’Ad. S.

  1. Syukron Makmun

Mengetahui,

Ketua RT.01/01                                                                         Ketua RW.01

 

| Meninggalkan komentar

Therapi lansia adjhis

terapi-pak-adjma-con

Gambar | Posted on by | Meninggalkan komentar

maknai Hakikat Penciptaan Manusia

maknai Hakikat Penciptaan Manusia

1. Berkaca pada penciptaan diri sendiri
Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? (QS : Ar Ruum ayat 8).
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS : Adz Dzaariyaat ayat 20-21).
2. Hakikat diciptakannya manusia
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS : Adz Dzaariyaat ayat 56).
Manusia diciptakan oleh Allah Ta’ala semata-mata untuk mengabdi kepada-Nya, salah satu cara penghambaan seseorang kepada Rabbnya yaitu dengan melihat proses penciptaan dirinya sendiri sebagai bahan renungan dalam hidupnya, kenapa demikian?
Karena seseorang tidak akan pernah kuasa untuk bisa hadir di dunia dengan kehendaknya sendiri, bahkan ia juga tidak kuasa untuk bisa menghadirkan seorang bayi yang lucu, imut, mungil lagi menggemaskan dan menentukan anak laki-laki atau perempuan untuk menjadi anaknya, karena hakikat penciptaan pada dasarnya terjadi dengan izin Allah Ta’ala.
3. Allah pencipta segala sesuatu
Katakanlah (wahai Muhammad):
“Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah”. Katakanlah: “Maka Patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, Padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS : Ar Ra’d ayat 16)
Ditambahkan di dalam surat Az Zumar ayat 62.
“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.”
4. Manusia diciptakan dari air
dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah[[1]] dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa. (QS : Al Furqaan ayat 54)
5. Manusia diciptakan dari (air) mani
Dia telah menciptakan manusia dari mani. (QS : An Nahl ayat 4)
6. Manusia diciptakan dari tanah liat kering (lumpur)
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat:
“Sesungguhnya aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS : Al Hijr ayat 28)
Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar. (QS : Ar Rahmaan ayat 14)
7. Rentetan proses penciptaan manusia
Dia-lah yang menciptakan kamu dari tanah kemudian dari setetes mani, sesudah itu dari segumpal darah, kemudian dilahirkannya kamu sebagai seorang anak, kemudian (kamu dibiarkan hidup) supaya kamu sampai kepada masa (dewasa), kemudian (dibiarkan kamu hidup lagi) sampai tua, di antara kamu ada yang diwafatkan sebelum itu. (kami perbuat demikian) supaya kamu sampai kepada ajal yang ditentukan dan supaya kamu memahami(nya). (QS : Ghafir ayat 67)
8. Semua jenis hewan diciptakan dari air
dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, Maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS : An Nuur ayat 45)
Jika seseorang mau belajar dalam memahami ayat-ayat Allah Ta’ala seraya mentadabburinya dengan sebenar-benar pemahaman akan segala penciptaan, tiada lain untuk beribadah kepada sang maha pencipta.
Proses kehidupan adalah sebuah rangkaian ibadah menuju kebahagian dunia dan akherat, kalau makan dan minum saja bisa menjadi ibadah jika diniatkan semata-mata karena Allah Ta’ala, apalagi dengan niat seseorang yang hendak menegakkan agama Allah Ta’ala dan mengikuti sunnah Rasulullah dalam perkataan dan perbuatan.
Hal ini adalah perbuatan mulia apalagi jika tujuannya bukan mengharap materi duniawi, akan terasa berat bagi orang-orang musyrik untuk menerima ajakan bertauhid sebaimana dijelaskan di dalam surat Asy Syuura ayat 13.
Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu:
Tegakkanlah agama[[2]] dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

[1]. Mushaharah artinya hubungan kekeluargaan yang berasal dari perkawinan, seperti menantu, ipar, mertua dan sebagainya.
[2]. Yang dimaksud: agama di sini ialah meng-Esakan Allah s.w.t., beriman kepada-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhirat serta mentaati segala perintah dan larangan-Nya.

| Meninggalkan komentar

KERANGKA ISLAM : AQIDAH,IBADAH,MUAMALAH DAN AKHLAQ

Apa penegertian dari Aqidah, Ibadah, Muamalah dan akhlak?
• Pengertian Aqidah
Aqidah secara etimologi; Aqidah berasal dari kata ‘aqd yang berarti pengikatan. Aqidah adalah apa yang diyakini oleh seseorang. Jika dikatakan “Dia mempunyai aqidah yang benar” berarti aqidahnya bebas dari keraguan. Aqidah merupakan perbuatan hati yaitu kepercayaan hati dan pembenarannya.
Aqidah scara syara’ yaitu iman kepada Allah, para MalaikatNya, Kitab-kitabNya, Para RasulNya dan kepada hari akhir serta kepada qadar yang baik mupun yang buruk. Hal ini disebut juga sebagai rukun iman.[1]
Allah SWT Berfirman dalam surat Yunus Ayat 3, yang berbunyi :
Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa`at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
Aqidah Islamiyyah:
Aqidah Islamiyyh adalah aqidah tiga generasi pertama yang dimuliakan yaitu generasi sahabat, Tabi’in dan orang yang mengikuti mereka dengan baik. Menurut Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sinonimnya aqidah Islamiyyah mempunyai nama lain, di antaranya, at-Tauhid, as-Sunnah, Ushuluddiin, al-Fiqbul Akbar, Asy-Syari’iah dan al-Iman. Nama-nama itulah yang terkenal menurut Ahli Sunnah dalam ilmu ‘aqidah.[2]
Aqidah merupakan suatu keyakinan hidup yang dimiliki oleh manusia. Keyakinan hidup inidiperlukan manusia sebagai pedoman hidup untuk mengarahkan tujuan hidupnya sebagai mahluk alam. Pedoman hidup ini dijadikan pula sebagai pondasi dari seluruh bangunan aktifitas manusia.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat : 186
Artinya: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
• Pengertian Ibadah
Ibadah secara bahasa (etimologi) berarti merendahkan diri serta tunduk. Sedangkan menurut syara’ (terminologi), ibadah mempunyai banyak definisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Definisi itu antara lain adalah:
1. 1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.
2. 2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu tingkatan tunduk yang paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
3. 3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai Allah Azza wa Jalla, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Yang ketiga ini adalah definisi yang paling lengkap. [3]
Ibadah inilah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Allah berfirman:
Artinya : Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghen-daki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” [Adz-Dzaariyaat : 56-58].
Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Sedangkan shalat, zakat, haji, dan jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik dan hati). Serta masih banyak lagi macam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati, lisan dan badan.
Allah memberitahukan, hikmah penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah kepada Allah . Dan Allah Maha Kaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan-Nya. Karena ketergantungan mereka kepada Allah , maka mereka menyembah-Nya sesuai dengan aturan syari’at-Nya. Maka siapa yang menolak beribadah kepada Allah , ia adalah sombong. Siapa yang menyembah-Nya tetapi dengan selain apa yang disyari’atkan-Nya maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan siapa yang hanya menyembah-Nya dan dengan syari’at-Nya, maka dia adalah mukmin muwahhid (yang mengesakan Allah ).
• Pengertian Muamalah
Dari segi bahasa, muamalah berasal dari kata aamala, yuamilu, muamalat yang berarti perlakuan atau tindakan terhadap orang lain, hubungan kepentingan. Kata-kata semacam ini adalah kata kerja aktif yang harus mempunyai dua buah pelaku, yang satu terhadap yang lain saling melakukan pekerjaan secara aktif, sehingga kedua pelaku tersebut saling menderita dari satu terhadap yang lainnya.
Pengertian Muamalah dari segi istilah dapat diartikan dengan arti yang luas dan dapat pula dengan arti yang sempit. Di bawah ini dikemukakan beberapa pengertian muamlah;
Menurut Louis Ma’luf, pengertian muamalah adalah hukum-hukum syara yang berkaitan dengan urusan dunia, dan kehidupan manusia, seperti jual beli, perdagangan, dan lain sebagainya. Sedangkan menurut Ahmad Ibrahim Bek, menyatakan muamalah adalah peraturan-peraturan mengenai tiap yang berhubungan dengan urusan dunia, seperti perdagangan dan semua mengenai kebendaan, perkawinan, thalak, sanksi-sanksi, peradilan dan yang berhubungan dengan manajemen perkantoran, baik umum ataupun khusus, yang telah ditetapkan dasar-dasarnya secara umum atau global dan terperinci untuk dijadikan petunjuk bagi manusia dalam bertukar manfaat di antara mereka.
Sedangkan dalam arti yang sempit adalah pengertian muamalah yaitu muamalah adalah semua transaksi atau perjanjian yang dilakukan oleh manusia dalam hal tukar menukar maupun dalam hal utang piutang.
Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah Ayat 280 yang berbunyi
Artinya : Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.
Dari berbagai pengertian muamalah tersebut, dipahami bahwa muamalah adalah segala peraturan yang mengatur hubungan antara sesama manusia, baik yang seagama maupun tidak seagama, antara manusia dengan kehidupannya, dan antara manusia dengan alam sekitarnya. Dan Allah SWT juga memerintahkan manusia untuk berinterksi dan bermuamalah dengan cara bertebaran di muka bumi untuk mencari rezki Allah. Sebagaiman Allah SWT berfirman dalam surat Al Jumah ayat : 10 yang berbunyi :
Artinya : Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
• Pengertian Akhlak
Pengertian Akhlak Secara Etimologi, Menurut pendekatan etimologi, perkataan “akhlak” berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnya “Khuluqun” yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan “khalkun” yang berarti kejadian, serta erat hubungan ” Khaliq” yang berarti Pencipta dan “Makhluk” yang berarti yang diciptakan.
Pengertian akhlak adalah kebiasaan kehendak itu bila membiasakan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut akhlak .Jadi pemahaman akhlak adalah seseorang yang mengerti benar akan kebiasaan perilaku yang diamalkan dalam pergaulan semata – mata taat kepada Allah dan tunduk kepada-Nya. Oleh karena itu seseorang yang sudah memahami akhlak maka dalam bertingkah laku akan timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian.
Allah SWT berfirman Surah Al-Maidah, ayat 8
Artinya“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlakutidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamukerjakan.”
Akhlak sifatnya universal dan abadi. Akhlak dalam islam merupakan refleksi internal dari dalam jiwa manusia yang dieksternalisasikan secara kongrit dalam bentuk perilaku dan tindakan nyata. Akhlak seseorang terkait erat dengan perspektif keimanannya, tentang eksistensi dirinya sebagai khalifah Allah. Akhlak yang lahir dari kualitas internalisasi nilai-nilai iman sudah barang tentu akan memancarkan kualitas yang lebih baik. Demikian pula sebaliknya, akhlak yang buruk merefleksikan kadar keimanan seseorangyang masih labil.[4]
Dengan demikian memahami akhlak adalah masalah fundamental dalam Islam. Namun sebaliknya tegaknya aktifitas keislaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa orang itu memiliki akhlak. Jika seseorang sudah memahami akhlak dan menghasilkan kebiasaan hidup dengan baik, yakni pembuatan itu selalu diulang – ulang dengan kecenderungan hati (sadar)2 .
Akhlak merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian. Semua yang telah dilakukan itu akan melahirkan perasaan moral yang terdapat di dalam diri manusia itu sendiri sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak berguna, mana yang cantik dan mana yang buruk.

2. Bagaimana hubungan antara Aqidah, Ibadah, Muamalah dan akhlak ?
Hubungan aqidah dengan akhlak
Aqidah merupakan suatu keyakinan hidup yang dimiliki oleh manusia. Keyakinan hidup inidiperlukan manusia sebagai pedoman hidup untuk mengarahkan tujuan hidupnya sebagai mahluk alam. Pedoman hidup ini dijadikan pula sebagai pondasi dari seluruh bangunan aktifitas manusia.
“ Aqidah sebagai dasar pendidikan akhlak “Dasar pendidikan akhlak bagi seorang muslim adalah aqidah yang benar terhadap alam dan kehidupan, Karena akhlak tersarikan dari aqidah dan pancaran dirinya. Oleh karena itu jika seorang beraqidah dengan benar, niscahya akhlaknya pun akan benar, baik dan lurus. Begitu pula sebaliknya, jika aqidah salah maka akhlaknya pun akan salah.
ilmu yang menjelaskan baik dan buruk, menjelaskan yang seharusnya dilakukan manusia kepada yang lainya, yang disebut dengan akhlak. Dengan akhlak yang baik seseorang akan bisa memperkuat aqidah dan bisa menjalankan ibadah dengan baik dan benar. Ibadah yang dijalankan dinilai baik apabila telah sesuai dengan muamalah. Muamalah bisa dijalankan dengan baik apabila seseorang telah memiliki akhlak yang baik.
Contohnya :
Jika berjanji harus ditepati yaitu apabila seorang berjanji maka harus ditepati. Jika orang menepati janji maka seseorang telah menjalankan aqidahnya dengan baik. Dengan menepati janji seseorang juga telah melakukan ibadah. Pada dasarnya setiap perbuatan yang dilakukan manusia arus didasari denga aqidah yang baik.
Aqidah seseorang akan benar dan lurus jika kepercayaan dan keyakinanya terhadap alam juga lurus dan benar. Karena barang siapa mengetahui sang pencipta dengan benar, niscahya ia akan dengan mudah berperilaku baik sebagaimana perintah allah. Sehingga ia tidak mungkin menjauh bahkan meninggalkan perilaku-perilaku yang telah ditetapkanya. Pendidikan akhlak yang bersumber dari kaidah yang benar merupakan contoh perilaku yang harus diikuti oleh manusia. Mereka harus mempraktikanya dalam kehidupan mereka, karena hanya inilah yang menghantarkan mereka mendapatkan ridha allah dan atau membawa mereka mendapatkan balasan kebaikan dari allah
Jujur merupakan salah satu sifat manusia yang berhubungan dengan aqidah. Jujur dapat terwujud apabila seseorang telah memegang konsep-konsep yang berhubungan dengan aqidah. Dengan dijalankanya konsep-konsep aqidah tersebut maka seseorang akan memiliki akhlak yang baik. Sehingga orang akan takut dalam melakukan perbuatan dosa.
Jika perbedaan dalam fiqih dimaksudkan untuk memberikan kemungkinan, maka kesalehan tentu saja bukan dalam menjalankan fiqih, betapapun sulitnya. Yang paling saleh diantara kita bukanlah orang yang bersedekap pada waktu berdiri shalat, bukan juga yang meluruskan tangannya, karena kedua cara shalat itu merupakan ijtihat para ulama dengan merujuk pada hadis yang berbeda. Yang durhaka juga bukan yang mandi janabah sebelum tidur, atau yang tidur dulu baru mandi janabah, karena kedua-duanya dijalankan Rasullah Saw. Fikih tidak bisa dijadikan ukuran kemuliaan, tetapi kemuliaan seseorang di lihat dari kemuliaan akhlaknya.[5]
Hubungan aqidah dengan ibadah
Akidah menempati posisi terpenting dalam ajaran agama Islam. Ibarat sebuah bangunan, maka perlu adanya pondasi yang kuat yang mampu menopang bangunan tersebut sehingga bangunan tersebut bisa berdiri dengan kokoh. Demikianlah urgensi akidah dalam Islam, Akidah seseorang merupakan pondasi utama yang menopang bangunan keislaman pada diri orang tersebut. Apabila pondasinya tidak kuat maka bangunan yang berdiri diatasnya pun akan mudah dirobohkan.
Selanjutnya Ibadah yang merupakan bentuk realisasi keimanan seseorang, tidak akan dinilai benar apabila dilakukan atas dasar akidah yang salah. Hal ini tidak lain karena tingkat keimanan seseorang adalah sangat bergantung pada kuat tidaknya serta benar salahnya akidah yang diyakini orang tersebut. Sehingga dalam diri seorang muslim antara akidah, keimanan serta amal ibadah mempunyai keterkaitan yang sangat kuat antara ketiganya.
Muslim apabila akidahnya telah kokoh maka keimanannya akan semakin kuat, sehingga dalam pelaksanaan praktek ibadah tidak akan terjerumus pada praktek ibadah yang salah. Sebaliknya apabila akidah seseorang telah melenceng maka dalam praktek ibadahnya pun akan salah kaprah, yang demikian inilah akan mengakibatkan lemahnya keimanan.
Pondasi aktifitas manusia itu tidak selamanya bisa tetap tegak berdiri, maka dibutuhkan adanya sarana untuk memelihara pondasi yaitu ibadah. Ibadah merupakan bentuk pengabdian dari seorang hamba kepada allah. Ibadah dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada allah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap allah.
Manusia sebagai makhluk yang paling sempurna, sejak kelahirnya telah dibekali dengan akal pikiran serta perasaan (hati). Manusia dengan akal pikiran dan hatinya tersebut dapat membedakan mana yang baik dan mana yang benar, dapat mempelajari bukti-bukti kekuasaan Allah, sehingga dengannya dapat membawa diri mereka pada keyakinan akan keberadaan-Nya. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi manusia untuk tidak mengakui keberadaan Allah SWT. karena selain kedua bekal yang dimiliki oleh mereka sejak lahir, Allah juga telah memberikan petunjuk berupa ajaran agama yang didalamnya berisikan tuntunan serta tujuan dari hidup mereka di dunia.
Ibadah mempunyai hubungan yang erat dengan aqidah. Antaranya :
1. Ibadah adalah hasil daripada aqidah yaitu keimanan terhadap Allah sebenarnya yang telah membawa manusia untuk beribadat kepada Allah swt.
2. Aqidah adalah asas penerimaan ibadah yaitu tanpa aqidah perbuatan seseorang manusia bagaimana baik pun tidak akan diterima oleh Allah swt.
3. Aqidah merupakan tenaga penggerak yang mendorong manusia melakukan ibadat serta menghadapi segala cabaran dan rintangan.
Akidah adalah merupakan pondasi utama kehidupan keislaman seseorang. Apabila pondasi utamanya kuat, maka bangunan keimanan yang terealisasikan dalam bentuk amal ibadah orang tersebut pun akan kuat pula.
Amal ibadah tidak akan bisa benar tanpa dilandasi akidah yang benar. amal ibadah dinilai benar apabila dilakukan hanya untuk Allah semata dengan ittiba’ Rasul SAW.
Manusia diberi bekali akal pikiran agar dengan akal pikiran tersebut mereka dapat membedakan mana yang hak dan mana yang batil, mempelajari tanda-tanda kekuasaan Allah, menganalisa hakikat kehidupannya sehingga dia tahu arah dan tujuan dirinya diciptakan di dunia. Akal pikiran dan perasaan inilah yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain. Oelh karena itu manusia dipercaya untuk menjadi khalifah Allah di Bumi.
Hubungan aqidah dengan muamalah
Pola pikir, tindakan dan gagasan umat Islam hendaknya selalu bersendikan pada aqidah Islamiyah. Ungkapan “buah dari aqidah yang benar (Iman) tidak lain adalah amal sholeh” harus menjadi spirit dan etos ummat Islam. Pribadi yang mengaku muslim mestinya selalu menebar amal shalih sebagai implementasi keimanannya di manapun mereka berada. Tidak kurang 60 ayat Al Qur’an menerangkan korelasi antara keimanan yang benar dengan amal sholeh ini. Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa perintah beriman kepada Allah dan hari akhir selalu diikuti dengan perintah untuk melaksanakan amal shalih. Inilah makna operatif dari ungkapan “al-Islamu ‘aqidatun wa jihaadun”, bahwa kebenaran Islam itu harus diyakini sekaligus juga diperjuangkan pengamalannya secara sungguh-sungguh dalam konteks kemaslahatan dan bebas dari perilaku teror.
Apabila aqidah telah dimiliki dan ibadah telah dijalankan oleh manusia, maka kedua hal tersebut harus dijalankan dengan sebaik-baiknya, oleh karena itu diperlukan adanya suatu peraturan yang mengatur itu semua. Aturan itu disebut Muamalah. Muamalah adalah segala aturan islam yang mengatur hubungan antar sesama manusia. Muamalah dikatakan berjalan baik apabila telah memiliki dampak sosial yang baik. Untuk dapat mewujudkan aqidah yang kuat yaitu dengan cara ibadah yang benar dan juga muamalah yang baik, maka diperlukan suatu adanya
Aqidah adalah pondasi keber-Islaman yang tak terpisahkan dari ajaran Islam yang lain: akhlaq, ibadah dan Muamalat. Aqidah yang kuat akan mengantarkan ibadah yang benar, akhlaq yang terpuji dan muamalat yang membawa maslahat. Selain sebagai pondasi, hubungan antara aqidah dengan pokok-pokok ajaran Islam yang lain bisa juga bersifat resiprokal dan simbiosis. Artinya, ketaatan menuanaikan ibadah, berakhlaq karimah, dan bermuamalah yang baik akan memelihara aqidah.
Dengan kata lain, ibadah adalah pelembagaan aqidah dalam konteks hubungan antara makhkluq dengan Khaliq; akhlaq merupakan buah dari aqidah dalam kehidupan yang etis dan egaliter; dan muamalah sebagai implementasi aqidah dalam masyarakat yang bermartabahat dan menebar maslahat. Karena itu, agar aqidah tumbuh dan berkembang, aqidah harus operatif dan fungsional. Di Indonesia kita menyaksikan beberapa ormas Islam yang telah berhasil mengembangkan amal usaha atau unit pelayanan umat seperti Panti sosial dan anak yatim, lembaga pendidikan dan pondok pesantren, balai pengobatan dan rumah sakit, lembaga pengumpul dan penyalur zakat serta lembaga-lembaga sosial keagamaan lainnya. Lembaga atau unit pelayanan umat tersebut, meminjam istilah M. Amin Abdullah, merupakan bentuk faith in action, buah keimanan yang aktif dan salah satu bentuk pengejawantahan ‘tauhid sosial’ atau ‘theologi pembangunan’. Sayanya, tidak sedikit buah faith in action tersebut yang terjebak pada bebagai kepentingan mulai dari ekonomi hingga politik.
Agar tetap kokoh dan kuat serta menjadi penyangga seluruh sendi keber-Islaman, aqidah harus dijaga, dipelihara dan dipupuk sehingga bisa hidup subur dalam pribadi setiap Muslim. Pentingnya memelihara aqidah ini juga tersirat dalam Sirrah Nabawiyah. Saat membangun masyarakat Islam di Makkah dan Madidah selama 23 tahun Rasulullah Muhammad SAW tidak kenal lelah membina aqidah umatnya. Mengingat pentingnya aqidah ini bisa dimengerti bila setiap surat dalam Al Quran mengandung pokok-pokok ajaran keimanan.
Di tengah pasar bebas nilai dan ideologi saat ini, upaya merevitalisasi aqidah serasa memperoleh momentum. Mudah tergiurnya sebagian umat pada faham atau aliran-aliran yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam merupakan efek dari lemahnya aqidah mereka. Ketidak peduliaan sebagian umat Islam terhadap kerusakan lingkungan dan kebobrokan moral juga indikasi rapuhnya bangunan aqidah. Mulai memudarnya etos dan jiwa voluntarisme di kalangan umat dan semakin menguatnya syahwat duniawi adalah konsekuensi logis dari redupnya aqidah. Saatnya sekarang membenahi dan merevitalisasi aqidah agar umat memiliki pondasi yang benar, kokoh dan fungsional. Dengan bekal ini faith in action bisa dilipatgandakan untuk menghadirkan pesona Islam yang lebih “ihsan pada kemanusiaan.”
Ajaran islam yang mengatur prilaku manusia baik dalam kaitanya sebagai makhluk dengan tuhannya maupun dalam kaitannya sebagai sesama mahluk, dalam term fiqih atau ushul alfiqh disebut dengan syariah. Sesuai dengan aspek yang diaturnya, syariah ini terbagi kepada dua yakni ibadah dan muamalah. Ibadah adalah syariah yang mengatur hubungan antara manusia dengan tuhannya, sedangkan muamalah adalah syariah yang mengatur hubungan antara sesama manusia. Pada gilirannya kegiatan ekonomi sebagai salah satu bentuk dari hubungan antara manusia ia bukan bagian dari aqidah, akhlaq dan ibadah melainkan bagian dari muamalah. Namun demikian masalah ekonomi tidak lepas dari maspek aqidah, akhlak maupun ibadah sebab dalam prespektif islam prilaku ekonomi harus selalu diwarnai oleh nilai-nilai aqidah, aklak dan ibadah.[6]

3. Bagaimana Implikasinya Aqidah, Ibadah, Muamalah Serta akhlak dalam Kehidupan sehari-hari?
Aqidah, Ibadah, dan Muamalah Serta Implikasinya dalam Kehidupan
Dr. Kaelany HD., MA mengatakan dalam bukunya, Islam Agama Universal, bahwa ajaran Islam sangatlah luas. Ulama dengan berlandaskan hadist membagi ajaran Islam tersebut dalam tiga pokok bahasan, yaitu Aqidah, Syari’ah, dan Akhlak. Dalam hal ini, akan dibahas pengertian Aqidah serta Syari’ah (sebagai Ibadah dan Muamalah), yang mana pengertian ini didapat dari berbagai sumber, yaitu Al-qur’an , Hadist, dan berbagai resensi dari buku atau artikel.[7]
Aqidah merupakan suatu istilah untuk menyatakan “kepercayaan” atau Keimanan yang teguh serta kuat dari seorang mukmin yang telah mengikatkan diri kepada Sang Pencipta. Makna dari keimanan kepada Allah adalah sesuatu yang berintikan tauhid, yaitu berupa suatu kepercayaan, pernyataan, sikap mengesankan Allah, dan mengesampingkan penyembahan selain kepada Allah.
Ajaran mengenai aqidah ini merupakan tujuan utama Rasul diutus ke dunia, yang mana hal ini dinyatakan dalam AL-qur’an, yang berbunyi:
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu (Muhammad) melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tiada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlan olehmu sekalian akan Aku” (QS. 21: 25)
Akidah adalah suatu ketetapan hati yang dimiliki seseorang, yang mana tidak ada factor apa pun yang dapat mempengaruhi atau merubah ketetapan hati seseorang tersebut.
• Ibadah dan Muamalah
Syari’ah adalah sebutan terhadap pokok ajaran Allah dan Rasulnya yang merupakan jalan atau pedoman hidup manusia dalam melakukan hubungan vertical kepada Pencipta, Allah SWT, dan juga kepada sesama manusia.
Ada dua pendekatan dalam mendefinisikan Syari’ah, yaitu antara lain:
• Dari segi tujuan, Syari’ah memiliki pengertian ajaran yang menjaga kehormatan manusia sebagai makhluk termulia dengan memelihara atau menjamin lima hal penting, yaitu:
1. Menjamin kebebasan beragama (Berketuhanan Yang Maha Esa)
2. Menjamin kehiupan yang layak (memelihara jiwa)
3. Menjamin kelangsungan hidup keluarga (menjaga keturunan)
4. Menjamin kebebasan berpikir (memelihara akal)
5. Menjamin kehidupan dengan tersedianya lapangan kerja yang pantas (memelihara harta)
Lima hal pemeliharaan itu akan menjadi ukuran dari lima hukum Islam, seperti wajib, sunnat, haram, makruh, dan mubah.
Muamalah adalah istilah yang digunakan untuk permasalahan selain ibadah.
Ibadah wajib berpedoman pada sumber ajaran Al-Qur’an dan Al-Sunnah, yaitu harus ada contoh (tatacara dan praktek) dari Nabi Muhammad SAW. Konsep ibadah ini berdasarkan kepada mamnu’ (dilarang atau haram). Ibadah ini antara lain meliputi shalat, zakat, puasa, dan haji. Sedangkan masalah mu’amalah (hubungan kita dengan sesame manusia dan lingkungan), masalah-masalah dunia, seperti makan dan minum, pendidikan, organisasi, dan ilmu pengetahuan dan teknologi, berlandaskan pada prinsip “boleh” (jaiz) selama tidak ada larangan yang tegas dari Allah dan Rasul-Nya.
Berkaitan dengan hal di atas (mu’amalah), Nabi Muhammad SAW mengatakan:
“Bila dalam urusan agama (aqidah dan ibadah) Anda contohlah saya. Tapi, dalam urusan dunia Anda, (teknis mu’amalah), Anda lebih tahu tentang dunia Anda.”
Dalam ibadah, sangat penting untuk diketahui apakah ada suruhan atau contoh tatacara, atau aturan yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Apabila hal itu tidak ada, maka tindakan yang kita lakukan dalam ibadah itu akan jatuh kepada bid’ah, dan setiap perbuatan bid’ah adalah dhalalah (sesat). Sebaliknya dalam mu’amalah yang harus dan penting untuk diketahui adalah apakah ada larangan tegas dari Allah dan Rasul-Nya, karena apabila tidak ada, hal tersebut boleh saja dilakukan.
Dalam hal ini, Dr. Kaelany juga menjelaskan adanya dua prinsip yang perlu kita perhatikan, yaitu:
Pertama: Manusia dilarang “menciptakan agama, termasuk system ibadah dan tata caranya, karena masalah agama dan ibadah adalah hak mutlak Allah dan para Rasul-Nya yang ditugasi menyampaikan agama itu kepada masyarakat. Maka menciptakan agama dan ibadah adalah bid’ah. Sedang setiap bid’ah adalah sesat.
Kedua: Adanya kebebasan dasar dalam menempuh hidup ini, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan masalah mu’amalah, seperti pergaulan hidup dan kehidupan dalam masyarakat dan lingkungan, yang dikaruniakan Allah kepada umat manusia (Bani Adam) dengan batasan atau larangan tertentu yang harus dijaga. Sebaliknya melarang sesuatu yang tidak dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya adalah bid’ah.[8]
Dalam menjalankan keseharian, penting bagi kita untuk mengingat dua prinsip di atas. Ibadah tidak dapat dilakukan dengan sekehendak hati kita karena semua ketentuan dan aturan telah ditetapkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, serta contoh dan tatacaranya telah diajarkan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya. Melakukan sesuatu dalam ibadah, yang tidak ada disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah berarti melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah SWT, dan ini sungguh merupakan perbuatan yang sesat.
Namun dalam beberapa hal, tentu ada hal yang harus diperhatikan sesuai dengan perkembangan zaman. Di sini lah implikasi dari mu’amaah itu sendiri. Selama tidak ada larangan secara tegas di dalam Al-Qur’an dan Sunnah, hal yang dipertimbangkan itu boleh dilakukan. Hal ini telah diterangkan oleh Rasul dalam sabdanya yang sudah ditulis di atas. Sebagai contoh adalah dalam kehidupan sehari-hari, pada zaman hidupnya Rasulullah, masyarakat yang mengadakan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan binatang Unta sebagai kendaraan. Akan tetapi hal itu tidak mungkin sama dalam kehidupan zaman modern ini. Dan karenanya, menggunakan kendaraan bermotor diperbolehkan karena tidak ada larangan dari Allah dan Rasul-Nya (tidak tertera larangan yang tegas dalam Al-Qur’an dan Sunnah).

| Meninggalkan komentar

sikap dan tindakan kita paska ramadhan

الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
Kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah memberikan kenikmatan beribadah kepada kita, khususnya pada bulan Ramadhan yang baru saja kita lalui, bahkan ibadah shalat Id kita pada pagi ini.
Karenanya kita berharap semoga semua itu dapat mengokohkan ketaqwaan kita kepada Allah swt dalam menjalani sisa kehidupan kita di dunia.
Dimana Ketaqwaan yang membuat kita bisa keluar dari berbagai persoalan hidup dan mengangkat derajat kita menjadi amat mulia di hadapan Allah swt.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para penerusnya hingga hari akhir nanti.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
Sedih dan gembira merupakan dua perasaan yang menyatu pada diri kita hari ini.
• Sedih karena Ramadhan terasa cepat berlalu, padahal momentumnya belum kita maksimalkan untuk mengokohkan ketaqwaan pribadi, keluarga dan masyarakat.
• gembira karena semoga dengan berakhirnya Ramadhan kita dapat kembali menjadi insan yang suci dari segala noda dan dosa.
Setelah Ramadhan berakhir, Apa yang harus kita lakukan menghadapi sebelas bulan dan seterusnya Insya Allah adalah memperkuat dan membuktikan komitmen
Ada 4 (empat ) Komitmen yang amat penting dan harus dalam kehidupan pribadi, keluarga dan kemasyarakatan.
Pertama :
• komitmen kepada Allah swt sebagai Tuhan yang benar.
Kedua :
• komitmen untuk selalu menjaga
• kemuliaan pribadi,
• keluarga
• dan masyarakat dengan akhlak yang mulia.
Ketiga:
• Komitmen untuk selalu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan orang lain.
Keempat :
• Menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
Pertama :
• Komitmen kepada Allah swt sebagai Tuhan yang benar.
Setiap kita tentu sudah memahami bahwa menuhankan Allah swt tidak cukup hanya dengan pernyataan, tapi harus kita buktikan dengan sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan ketentuan Allah swt.
Ramadhan kita akhiri dengan gema takbir, tahlil dan tahmid, suatu penegasan dari kita bahwa kepada Allah swt kita perkuat komitmen ketuhanan. Bila kita sudah memiliki komitmen kepada Allah swt, segala keterikatan kepada yang lain kita sesuaikan dengan keterikatan kepada Allah swt.
Kita bisa belajar dari seorang sahabat Saad bin Abi Waqash yang dengan tegas berkata kepada ibunya yang mogok makan karena protes atas keislamannya: “Seandainya ibu punya seratus nyawa, ibu mati, hidup lagi dan mogok makan lagi hingga mati, lalu hidup lagi, saya tidak akan keluar dari Islam.”
Komitmen yang kuat kepada Allah swt membuat kita akan menyesuaikan diri dengan segala ketentuan-ketentuan-Nya. Allah swt berfirman:
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِ
عْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ
Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui (QS Al Jatsiyah [45]:18).
Satu hal yang harus kita waspadai bahwa banyak yang orang mengaku beriman kepada Allah swt, tapi ternyata tidak mau komitmen kepada segala ketentuan-Nya.
Ini merupakan keimanan yang tidak ideal, bahkan bisa jadi tidak diakui oleh Rasulullah saw, dalam satu hadits beliau bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ
Tidak beriman seseorang di antara kamu sehingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (syariat Islam). (HR. Thabrani).
Ibadah puasa Ramadhan yang baru saja kita lewati mendidik kita agar memiliki kekuatan komitmen kepada Allah swt, dan ini harus kita buktikan keberhasilannya.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
Kedua :
Komitmen untuk selalu menjaga
• kemuliaan pribadi,
• keluarga
• dan masyarakat dengan akhlak yang mulia.
Satu hal yang harus kita sadari bahwa sekarang ini di antara masyarakat kita banyak yang menunjukkan akhlak yang tercela, bahkan sangat tercela dan amat rendah.
Fakta yang diberitakan oleh berbagai media massa semakin mengkhawatirkan, bahkan mencekam perasaan kita semua, apalagi diperkuat dengan data yang tidak perlu kita ragukan. Pornografi yang bertubi-tubi menyerang generasi kita telah menunjukkan hasilnya yang sangat menakutkan mulai dari pergaulan bebas tanpa batas antara pria dengan wanita, perzinaan yang merajalela, pengguguran kandungan yang semakin banyak, hingga pemerkosaan yang disertai dengan pembunuhan, bahkan yang amat memilukan adalah sampai ada bapak menzinai anaknya hingga anak menzinai ibunya, Na’udzubillah, ada apa dengan masyarakat kita sekarang, mengapa semua ini harus terjadi?.
Karena itu, rasa malu untuk melakukan yang tercela membuat kita harus dapat
• mempertahankan kemuliaan pribadi,
• keluarga dan masyarakat,
dan ini berpangkal dari keimanan dan keterikatan yang kokoh kepada Allah swt, Rasulullah saw bersabda:
الْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلِايْمَانِ
Malu itu cabang dari iman” (HR. Bukhari).
Antara keimanan dengan rasa malu merupakan sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dan tidak boleh dipisah-pisahkan, seperti dua sisi mata uang yang tidak diakui dan tidak bisa digunakan sebagai alat pembayaran yang sah.
Bila malu tidak ada pada jiwa seseorang yang mengaku beriman, maka pada hakikatnya ia tidak beriman, paling tidak pada saat rasa malu itu tidak dimilikinya, Rasulullah Saw bersabda:
اِنَّ الْحَيَاءَ وَاْلِايْمَانَ قُرِنَا جَمِيْعًا فَاِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَخَرُ
Sesungguhnya malu dan iman dua hal yang digandeng, tak dapat berpisah. Bila salah satunya diambil, yang lain akan ikut terambil (HR. Hakim dan Baihaki).

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu
Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah.
Ketiga :
• Komitmen untuk selalu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan orang lain.
Kehidupan masyarakat kita sekarang harus berhadapan dengan begitu banyak persoalan, mulai dari kesulitan ekonomi, mendidik anak dan keluarga hingga pengaruh negatif dari kemajuan informasi dan komunikasi.
Setiap kita seharusnya bisa menjadi bagian dari solusi untuk mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, sekecil apapun peran yang bisa kita mainkan, minimalnya adalah bisa memecahkan persoalan sendiri. Bila kita bisa pecahkan persoalan orang lain di dunia ini, kitapun akan mendapat pemecahan masalah di akhirat, Rasulullah saw bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَعَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلأَخِرَةِ وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَاكَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيْهِ
Barang siapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya (HR. Muslim).

Ketika Rasulullah saw dan para sahabat hijrah ke Madinah, para sahabat Madinah siap membantu dan mengatasi kesulitan sahabat dari Makkah. Saad bin Rabi yang orang Madinah menawarkan setengah harta bahkan satu istrinya bisa saja diceraikan agar bisa menikah nantinya dengan Abdurrahman bin Auf.
Tawaran yang menarik itu tidak diterima oleh Abdurrahman, ia lebih suka diantar ke pasar agar bisa melakukan usaha dan ternyata dalam hitungan hari di Madinah, Abdurrahman bin Auf. sudah bisa mandiri dari sisi ekonomi, bahkan ia bisa menikah dengan wanita Madinah dengan mahar sekitar 15 gram emas. Ini menunjukkan bahwa, Abdurrahman bin Auf. ingin bisa menyelesaikan persoalan dirinya sebelum bisa menjadi bagian dari solusi atas persoalan orang lain.
Pelajaran yang dapat kita ambil adalah setiap kita harus berusaha untuk bisa keluar dari setiap persoalan yang kita hadapi, namun bila tidak mampu, kitapun jangan sungkan untuk meminta bantuan orang lain.
Ketika bisa memberi solusi atas persoalan lain meskipun hanya berupa saran dan pendapat, maka itu sudah termasuk sedekah, dalam satu hadits Rasulullah saw bersabda:
وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِىْءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ
Bimbinganmu untuk orang yang lemah pandangannya adalah sedekah bagimu (HR. Tirmidzi).

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu
Kaum Muslimin Rahimakumullah
Keempat :
• Menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat.
Untuk melaksanakan ketiga hal di atas, salah satu yang harus mendapat porsi besar dari kita semua adalah
• menjadikan dan mengembalikan masjid sebagai sarana dan fungsi tarbiyah (pendidikan dan pembinaan).
Selama Ramadhan, ikatan batin kita dengan masjid telah kita perkuat, karenanya mulai hari ini kita pelihara penguatan itu. Paling tidak ada dua aspek yang harus dipertajam dalam konteks masjid sebagai sarana dan fungsi tarbiyah, ini amat memerlukan perhatian dan kerja sama antar pengurus dan jamaah masjid.
Pertama,
Pertama :
• Aspek keilmuan,
Masjid harus menjadi pusat ilmu dan jamaah kita jangan sampai menjadi orang awam yang tidak punya pemahaman tentang ajaran Islam.
Karena itu, jamaah harus memberi tahu kepada pengurus masjid tentang apa yang belum dipahami dari ajaran Islam dan pengurus masjid pun harus mencari tahu, apa yang belum dipahami oleh jamaahnya dari ajaran Islam. Selanjutnya ini menjadi kurikulum pengajian dan khutbah sehingga jamaah kita harus betul-betul memahami ajaran Islam secara utuh dan menyeluruh. Pemahaman yang baik tentang Islam menjadi amat mendasar, karena setiap muslim sangat dituntut untuk beramal shalih, dan dari mana orang bisa beramal shalih bila memahami tentang apa yang harus diamalkan saja tidak tahu.
Kedua :
• Aspek pembentukan karakter.
Jamaah kita jangan sekadar punya pemahaman tentang Islam, tapi harus terbentuk karakter sebagaimana mestinya.
Ketika ilmu mengajarkan bahwa tamu harus dihormati, maka karakter jamaah kita menunjukkan penghormatan kepada tamu. Ketika ilmu mengajarkan bahwa sayangi keluarga, maka tidak ada kekerasan dalam keluarga serta hal-hal yang bisa merusak fisik dan mentalnya, anggota keluarga saling berusaha untuk bisa masuk surga sama-sama.
Ketika ilmu mengajarkan bahwa kita harus saling menghormati, maka penghormatan satu dengan lainnya dapat terwujud indah sehingga tidak ada konflik, penganiayaan, kezaliman dan permusuhan.
Ketika ilmu mengajarkan mencari rizki secara halal, maka praktiknya tidak akan menghalalkan segala cara, apalagi sampai mencari pembenaran secara hukum agar sesuatu yang tidak halal seolah-olah menjadi halal, dan begitulah seterusnya. Atas semua ini, Rasulullah saw bersabda:
اَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ
Orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu tapi tidak dimanfaatkannya (HR. Thabrani dari Abu Hurairah ra).
Oleh karena itu, Rasulullah saw membina para sahabat melalui masjid sehingga lahirlah generasi terbaik sepanjang zaman dari masjid itu. Masjid dan mushalla kita seluruh Indonesia hampir 1 juta jumlahnya, yang menjadi pertanyaan kita adalah masyarakat seperti apa yang sudah kita hasilkan dari jumlah masjid yang begitu banyak?,
ini merupakan koreksi untuk kita bersama agar bisa memperbaiki kondisi masyarakat melalui masjid. Setelah Ramadhan berakhir, pengurus dan jamaah masjid harus segera melakukan konsolidasi agar masjid-masjid kita bertambah makmur, manfaatkan semua sumber daya yang dimiliki jamaah agar menjadi maslahat atau kebaikan dan kemajuan bersama.
Demikian khutbah Idul Fitri kita hari ini, semoga nilai-nilai Ibadah Ramadhan dapat kita lestarikan dalam kehidupan sehari-hari yang membuat kita semakin bertaqwa kepada Allah swt. Akhirnya, marilah kita akhiri khutbah id kita hari ini dengan sama-sama berdoa:
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا.
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini.
اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami.
Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُ
سْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

| Meninggalkan komentar

bekal-bekal yang harus dimiliki dalam menyongsong bulan Ramadhan

bekal-bekal yang harus dimiliki dalam menyongsong bulan mulia ini adalah sebagai berikut:

1. Mempersiapkan pemahaman yang benar tantang bulan Ramadhan

Untuk memberikan motivasi agar beribadah dalam bulan Ramadhan ini bisa dilaksanakan dengan maksimal, sebelum Ramadhan datang Rasulullah SAW mengumpulkan para sahabatnya guna memberikan persepsi yang benar dan mengingatkan betapa mulia bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits yang panjang Rasulullah bersabda:

Dari Salman Ra., beliau berkata, Rasulullah berkhutbah di tengah-tengah kami pada akhir Sya’ban, Rasulullah bersabda:
• Hai manusia, telah menjelang kepada kalian bulan yang sangat agung yang penuh dengan barokah,
• yang di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan,
• bulan di mana yang Allah telah menjadikan puasa di dalamnya sebagai puasa wajib, qiyamullailnya sunnah,
• barangsiapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan amalan wajib tujuh puluh kali pada bulan lainnya… dst. (HR. Ibnu Hujaimah, beliau berkata: hadits ini adalah hadits shahih).

2. Membekali diri dengan ilmu yang cukup

Sasaran dan ibadah puasa adalah untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita.
• Untuk itu, ibadah puasa harus dilakukan dengan tatacara yang benar.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

• Banyak orang berpuasa yang tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar.
• Dan banyak orang shalat malam, tidak mendapat apa-apa dari shalatnya kecuali bergadang. (HW. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:

• Barangsiapa tidak meninggalkan kata-kata dusta (dalam berpuasa) dan tetap melakukannya, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya. (HR. Bukhari).

Dari dua hadits di atas bisa disimpulkan bahwa
• membekali diri dengan segala ilmu yang berkaitan dengan puasa memang akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan kita untuk menigkatkan kualitas ketaqwaan kita melalui bulan Ramadhan yang mulia ini.

3. Melakukan persiapan jasmani dan ruhani.

Sebelum masuk bulan Ramadhan, Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita agar banyak melakukan ibadah puasa di bulan Sya’ban.
• Dengan banyak berpuasa di bulan Syaban berarti kita telah mengkondisikan diri, baik dari sisi ruhiyah atau jasadiyah. Kondisi ini akan sangat positif pengaruhnya dan akan mengantarkan kita untuk menyambut Ramadhan dengan berbagai ibadah dan amalan yang di sunnahkan.
• Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak fisik dan proses penyesuaian terlalu lama seperti banyak terjadi pada orang yang pertama kali berpuasa.
• Misalnya lemas, badan terasa panas, tidak bersemangat, banyak mengeluh, dan sebaginya.

Aisyah ra. Berkata:
• Saya tidak melihat Rasulullah SAW menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Syaban.(HR Muslim).

• Bulan Syaban adalah bulan dimana amal shalih diangkat ke langit.

Dari Usamah bin Zaid berkata:
• Saya bertanya: Wahai Rasulullah saw, saya tidak melihat engkau puasa disuatu bulan lebih banyak melebihi bulan Syaban
• Rasul saw bersabda:
Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa. (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Huzaimah)

4. Memahami keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan diciptakan Allah penuh dengan kutamaan-keutamaan dan kemuliaan.
Maka mempelajari dan memahami keutamaan tersebut akan memotivasi kita untuk lebih meningkatkan amal ibadah kita.
Di antara keutamaan dan kemuliaan bulan Ramadhan adalah:

a. Bulan kaderisasi taqwa dan bulan di turunkannya Al Quran

Allah SWT berfirman,

• Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. (QS. Al Baqarah: 183)

• Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu….(QS. Al Baqarah: 185).

b. Bulan paling utama, bulan penuh berkah

Rasulullah SAW bersabda,

• Bulan yang paling utama adalah bulan Ramadhan, dan hari yang paling mulia adalah hari Jumat.

Dalam hadits lain,

Dari Ubaidah bin Shomit, bahwa ketika Ramadhan tiba, Rasulullah bersabda:
• Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan penuh berkah,
• pada bulan itu Alah akan memberikan naungan-Nya kepada kalian.
• Dia turunkan rahmat-Nya,
• Dia hapuskan kesalahan-kesalahan dan
• Dia kabulkan doa pada bulan itu.
Allah Ta’ala akan melihat kalian berlomba melakukan kebaikan.
1. Allah akan membanggakan kalian di depan Malaikat. Maka pelihatkanlah kebaikan diri kaliah kepada Allah, sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat rahmat Allah Azza Wa Jalla. (HR. Tabroni).

c. Bulan ampunan dosa, bulan peluang emas melakukan ketaatan.

Rasulullah SAW bersabda:

Antara sholat lima waktu, dari hari Jum’at sampai Jum’at lagi, dari Ramadhan ke Ramadhan, dapat menghapuskan dosa-dosa apabila dosa-dosa besar dihindarkan. (HR. Muslim).

2. Barang siapa puasa karena iman dan mengharap pahala dari Allah, ia akan diampuni semua dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari Muslim)

Apabila Ramadhan telah datang pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu. (HR. Bukhari Muslim)

d. Bulan dilipatgandakannya amal sholeh

Rasulullah SAW bersabda,

Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat, Allah berfirman, Kecuali, puasa.
Puasa itu untuk dan Akulah yang akan membalasnya. Ia tinggalkan nafsu syahwat dan makannya semata-mata karena Aku.
Orang yang berpuasa mendapat dua kebahagiaan,
ketika berbuka dan ketika berjumpa Rabbnya. Bau mulut orang yang berpuasa disisi Allah lebih wangi daripada bau parfum misik. (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda,

Rabb-mu berkata,
Setiap perbuatan baik (di bulan Ramadhan) dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat.
Puasa untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya.
Puasa adalah perisai dari api neraka, bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi dari parfum misik. Apabila orang bodoh berlaku jahil kepada seseorang di antara kamu yang sedang berpuasa, maka hendaklah kamu katakan, Saya sedang berpuasa. (HR. Tirmizi).

e. Bulan jihad dan kemenangan

Sejarah telah mencatat, bahwa pada bulan suci Ramadhan beberapa kesuksesan dan kemenangan besar diraih ummat Islam.
Ini membuktikan bahwa bulan Ramadhan bukan merupakan bulan malas dan bulan lemah, tapi bulan Ramadhan adalah bulan jihad dan kemenangan.

• Perang Badar Kubro yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Yaumul Furqon dan umat Islam meraih kemenangan besar, terjadi pada tanggal 17 Ramadhan tahun 10 Hijriyah.
• Dan pada saat itu juga gembong kebathilan Abu Jahal terbunuh.

• Pada bulan Ramadhan, fathu Makkah (pembebasan kota Mekkah) yang diabadikan dalam Al Qur’an sebagai Fathan Mubina, terjadi pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriyah.

• Perang Ain Jalut menaklukan tentara Mongol terjadi pada Ramadhan, tepatnya pada tanggal 25 Ramadhan 658 Hijriah.

• Andalusia (Spanyol) yang ditaklukan oleh tentara Islam di bawah pimpinan Tariq bin Ziyad juga terjadi pada bulan Ramadhan, yaitu pada tanggal 28 Ramadhan 92 Hijriah.

Demikianlah beberapa hal yang perlu kita lakukan dalam persiapan menyambut Ramadhan. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Ramadhan tahun ini.

| Meninggalkan komentar