Cara Setan Memasuki Jiwa Manusia

Pertarungan melawan setan adalah pertarungan yang berlangsung sepanjang sejarah kemanusiaan. Genderang perang yang dikobarkan iblis terhadap anak cucu Adam dimulai sejak penciptaan manusia pertama, Adam alaihis-salam. Allah telah menyuruh para malaikat bersujud kepadanya, dan segenap malaikat tunduk atas perintah Allah SWT tersebut. Akan tetapi, perintah ini ditentang oleh iblis karena kesombongan dan pembangkangannya. Kesombongan iblis itu berlandaskan atas keyakinan mereka terhadap logika asal penciptaan: bahwa ia diciptakan dari api, sedangkan Adam terbuat dari tanah. Akibat kesombongan dan pembangkangan iblis atas perintah Rabb-nya, maka ia diusir dari komunitas malaikat dan dikeluarkan dari surga. Akan tetapi, ia mendapatkan beberapa kompensasi dan jaminan. Pertama, usia hidupnya diperpanjang sampai kiamat. Kedua, ia diberi kebebasan untuk menggoda dan menyesatkan Adam beserta anak cucunya. Maka, sejak saat itulah iblis merancang strategi dan menyiapkan segala perangkap serta sarananya, baik infrastruktur maupun konstitusi-konstitusinya yang merupakan juklak. Hal itu diperuntukkan bagi setan-setan, yakni balatentara iblis untuk melakukan operasi penyesatan dan penggodaan terhadap Adam dan anak cucunya.

Adapun keberhasilan pertama yang diraih iblis dan balatentaranya adalah mengeluarkan Adam dan istrinya, Hawa, dari surga, dan mereka diturunkan Allah ke bumi. Sejak saat itu, dimulailah pertarungan babak baru antara umat manusia dengan tentara-tentara iblis, yaitu setan-setan, dengan pertempuran yang lebih dahsyat dan frontal. Allah telah menyatakan dalam firman-Nya,“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin- pemimpim bagi orang-orang yang tidak beriman.” (al-A’raaf (7) : 27)

STRATEGI SETAN MEMASUKI WILAYAH JIWA
Ibnu Qayyim mengajak kita mengenal lebih jauh cara setan mendekati manusia, memasuki wilayah kepribadiannya, kemudian menyulapnya menjadi “manusia baru” yang berperan sebagai pengikut, tentara, bahkan komandan partai setan.

Ada tiga dimensi kepribadian manusia yang dimasuki setan secara bertahap atau secara simultan: akal, jiwa, dan fisik.

AKAL
Setan memasuki akal manusia dengan cara menghiasi kebatilan dan kejahatan agar tampak dalam pandangan akal manusia sebagai kebenaran dan kebaikan. Hiasan yang menyesatkan ini menjadikan manusia bingung dan kehilangan kemampuan untuk membedakan kebenaran dan kebaikan dari kebatilan dan kejahatan. Bentuk penyesatan ini disebut para ulama dengan sebutan “talbis” (pembiasan kebenaran dengan kebatilan). Orang yang terkena hiasan talbis ini disebut menderita penyakit “syubhat”. Allah berfirman,

“Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur`an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya selain Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Ali ‘Imran (3) : 7)

Setan memasuki wilayah akal manusia melalui lintasan pikiran (khawaathir) dan kemudian secara perlahan membangun suatu struktur logika baru dalam bangunan pemikirannya, yang membingkai persepsi atau fikrahnya. Persepsi baru inilah yang menjadi semacam frame of reference atau rule of thingking. Allah berfirman,

“…Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)-Nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (an-Najm (53) : 23)

JIWA
Selanjutnya, setan memasuki wilayah jiwa manusia dengan cara mencairkan keyakinannya kepada kebenaran dan membisikkan (waswasah) sesuatu ke dalamnya, lalu mengubahnya menjadi keragu-raguan. Dengan begitu, maka kebenaran itu tidak pernah sanggup melampui wilayah hati untuk turun menjadi tindakan dan perilaku. Allah berfirman,

“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata, ‘Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).’ Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua.’” (al-A’raaf (7) : 20-21)

Selain menciptakan keragu-raguan, setan juga memasuki wilayah jiwa manusia dengan cara menghidupkan syahwat yang ada dalam dirinya. Syahwat adalah kekuatan insting dalam diri manusia yang selalu mendorongnya melakukan semua perbuatan yang membuatnya mirip dengan binatang ternak. Dari syahwat perut, misalnya, lahir sifat jiwa yang negatif berupa rakus, tamak, dan kikir, serta tindak kriminal berupa pencurian dan perampokan. Dari syahwat seks lahir dosa perselingkuhan dan perzinaan.

TINDAKAN FISIK
Selanjutnya, menjadi lebih mudah bagi setan untuk membentuk dan mengarahkan perbuatan-perbuatan manusia. Tetapi, setan tidak akan pernah puas hanya mendorong manusia melakukan tindak kejahatan. Ia akan terus mendorong manusia untuk mengulangi kemaksiatan dan kejahatan sampai akhirnya menjadi suatu kebiasaan. Kemudian, ia akan mengukuhkan kebiasaan-kebiasaan buruk dan dosa-dosa itu menjadi tabiat manusia. Tabiat buruk ini menjadi bagian organik dari manusia, di mana ia merasakan ketergantungan. Akhirnya, ia sampai pada titik ini: tidak ada lagi kenikmatan selain dosa dan kejahatan itu sendiri. Allah berfirman,

“Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.” (an-Nisaa (4)`: 120)

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah (2) : 268)

TUJUH JEBAKAN SETAN
Ibnu Qayyim al-Jauziah dalam kitabnya Madaarijus Salikin menyebutkan kepada kita tentang tujuh langkah setan untuk menjebak manusia dalam kesesatan.

Pertama, mengajak manusia mempersekutukan Allah SWT dan mengingkari semua ajaran Allah. Ini yang disebut ulama dengan syirik dan kufur. Inilah dosa paling besar yang dilakukan manusia terhadap Allah. Targetnya adalah agar manusia menjadi musyrik dan atau kafir.

Kedua, apabila Allah SWT memberikan hidayah kepada hamba-hamba-Nya, maka ia mengajak mereka untuk menciptakan ajaran-ajaran baru yang tidak pernah disyariatkan. Inilah yang disebut dosa bid’ah oleh ulama. Targetnya adalah agar seorang muslim itu menjadi ahli bid’ah.

Ketiga, apabila seorang muslim berhasil keluar dari jebakan bid’ah, maka ia mengajaknya untuk durhaka kepada Allah SWT dengan berbagai dosa besar selain syirik dan kufur, seperti pembunuhan, pencurian, perzinaan, seks bebas dan lain-lain. Dosa-dosa inilah yang disebut dengan al-kabair. Sasarannya adalah menjadikan seorang muslim masuk pada katagori “mujrimin”.

Keempat, jika seorang muslim bisa membebaskan dirinya dari perangkap-perangkap dosa-dosa besar, dan Allah SWT telah menerima tobatnya, maka setan akan mengajaknya untuk mendekati dan melakukan dosa-dosa kecil yang disebut ash-shaghair. Setan akan menggoda manusia untuk melakukan dosa-dosa kecil ini dengan “tazyin” dalam jiwanya. Ia membisikkan kepada manusia bahwa dosa-dosa kecil ini sangat mudah dilebur dan dihapus oleh amal kebaikan seperti wudhu, istighfar, dan shalat. Maka, manusia akan merasa tidak bersalah ketika melakukan dosa-dosa kecil. Sasaran dalam langkah ini adalah menjadikan seorang muslim termasuk golongan “fasiqin”.

Kelima, setan akan menjebak manusia muslim yang taat dengan jurus “mubahat” (hal-hal yang diperbolehkan). Manusia diajak untuk senantiasa memperhatikan dan menjalankan hal-hal mubah secara berlebihan, seperti makan banyak, minum banyak, tidur banyak, rehat, dan santai. Di sini tidak ada dosa sama sekali, tetapi tidak ada juga pahala. Yang pasti, waktu, tenaga, perhatian, dan pikiran terbuang percuma. Selanjutnya, akan timbul penyakit tafrith dalam hidup dan kehidupan manusia.

Keenam, setelah seorang muslim lepas dari jebakan dan fitnah di atas, setan akan mengajaknya untuk memperhatikan dan mengerjakan sunnah-sunnah yang mafdhul dan meninggalkan yang afdhal. Misalnya, sunnah yang afdhal di antara azan dan iqamat adalah shalat, berdoa, dan beristighfar. Akan tetapi, ia malah berbicara dengan sesama kawannya, meskipun yang dibicarakan adalah sesuatu yang berfaedah.

Ketujuh, apabila seorang muslim itu memiliki iman dan ilmu yang mampu membedakan sunnah-sunnah tersebut dan senantiasa komitmen serta konsisten dalam memegang nilai-nilai kebenaran Islam, maka setan akan mengerahkan semua tentaranya untuk memeranginya baik secara psikis maupun fisik. Misalnya, orang yang berdakwah dan berjihad dianggap teroris dan perusuh yang akan dimusuhi oleh tentara iblis yang berbentuk manusia.

Pertanyaannya, di manakah posisi kita?

Adapun jawaban pertanyaan ini menunjukkan kualitas keimanan kita terhadap Allah. Seperti itulah bangunan ketakwaan yang ada dalam diri kita, dan seperti itulah jarak antara kita dengan Allah, serta jauh-dekatnya kita dari nilai-nilai Islam.

PINTU-PINTU SETAN DALAM WILAYAH JIWA
Setan—seperti juga janjinya kepada Allah setelah ia diusir (dalam hal ini iblis)—berjanji akan terus-menerus mendatangi manusia dari berbagai arah dan senantiasa mencari celah, titik kelemahannya, sampai ia mampu menggoda manusia tersebut, siapa pun orangnya: dari manusia yang hanya memiliki keimanan yang sedikit atau lemah, sampai kepada hamba yang sangat tekun beribadah kepada Allah SWT. Itulah sebabnya kita diajarkan untuk mengenali setan itu sebagai musuh, karena bisa jadi setan sudah menjadi kawan kita sementara kita tidak mengetahuinya, bahkan setan itu sudah menjelma menjadi diri kita. Na’udzubillahi min dzalik.

Setiap hamba menjadi penting baginya untuk mengetahui celah-celah masuknya setan, agar bisa menghindarinya sehingga tidak terjebak dalam perangkap setan yang telah dibuat. Celah-celah yang kita maksud itu adalah pintu-pintu setan itu sendiri oleh karena bagaimana mungkin menutup pintu-pintu setan kalau pintu-pintu itu tidak kita ketahui. Ketahuilah, bahwa pintu-pintu setan itu adalah sifat-sifat hamba itu sendiri yang jumlahnya sangat banyak. Said Hawwa dalam bukunya Tazkiya an-Nafs menyebutkan sepuluh pintu besar yang tidak pernah menjadi sempit karena banyaknya jumlah tentara setan.[1]

Diantaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, marah dan syahwat. Marah adalah bius akal. Apabila akal sudah terbius, maka ia menjadi lemah, dan jika demikian maka setan akan mudah menyerang. Apabila manusia marah, setan akan mempermainkannya seperti anak kecil yang sedang mempermainkan bola. Itulah sebabnya—ketika seseorang datang meminta nasihat kepada beliau, Rasulullah mengatakan,

”Janganlah engkau mudah marah.” Lalu Rasulullah mengulanginya beberapa kali. [2]

Kedua, tamak. Seorang mukmin memiliki bashirah yang akan memberitahukannya akan pintu-pintu setan, dan bashirah akan terhalang oleh kedengkian dan ketamakan, sebagaimana juga Nabi telah memperingatkannya dalam sabdanya.

“Cintamu pada sesuatu membuat buta dan tuli.” [3]

Penyebabnya, saat seseorang menjadi tamak terhadap segala sesuatu, maka setan mendapatkan kesempatan untuk menumbuhkan kesan yang bagus terhadap apa yang dilakukannya sehingga ia akan melampiaskan syahwatnya, sekalipun itu mungkar dan keji.

Ketiga, kekenyangan dengan makanan sekalipun itu halal. Paling tidak, ada enam sifat tercela yang akan muncul akibat banyak makan.

Menghilangkan rasa takut kepada Allah SWT dari dalam hatinya.
Menghilangkan rasa kasih sayang kepada sesama makhluk dari dalam hatinya karena ia mengira mereka semua kenyang.
Menghambat ketaatan.
Apabila mendengar ucapan hikmah ia tidak tanggap.
Apabila menyampaikan nasihat dan hikmah tidak menyentuh hati orang lain.
Menimbulkan banyak penyakit.

Keempat, suka berhias dengan perabotan, pakaian, dan rumah. Apabila hal tersebut telah mendominasi hati manusia, setan akan terus bertelur dan menetas di dalamnya sehingga terus mengajaknya untuk membangun rumah, menghias atap dan dindingnya, memperluas bangunannya, menghiasi pakaian dan lemari, dan membenamkannya ke dalam hati sepanjang hidupnya. Jika demikian, ia akan memperturutkannya hingga ajalnya tiba, dan akhirnya ia mati di jalan setan dan mengikuti hawa nafsu. Bahkan, sangat dikhawatirkan akibat buruknya, yaitu kekafiran. Na’udzubillahi min dzalik.

Kelima, hasad terhadap manusia. Setan kadangkala tidak mampu menggoda orang-orang pandai untuk menyembah berhala, tetapi setan sering juga mampu menggoda dan menyesatkan manusia melalui celah-celah pergaulan dengan cara merusak kedamaian di antara mereka. Akibatnya, dengan hawa nafsu mereka saling membenci karena rasa dengki yang dimunculkannya, dan pintu setan ini sangatlah berbahaya sebab ia ibarat api yang akan membakar seluruh kayu bakar, sebagaimana kedengkiannya itu menghabiskan semua kebaikan yang ada.

Keenam, terburu-buru. Segala amal perbuatan hendaklah dikerjakan setelah dipahami dan dimengerti, dan untuk memahaminya diperlukan perenungan dan waktu. Terburu-buru, di samping menghalangi tercapainya kematangan berpikir, juga menjadi kesempatan bagi setan untuk memasukkan kejahatannya kepada manusia secara tidak disadari. Itulah sebabnya Allah menyebut manusia sebagai makhluk yang memiliki sifat tergesa-gesa. Allah berfirman,

“Manusia telah diciptakan (bertabiat) tergesa-gesa.” (al-Anbiyaa` (21) : 37)

“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (al-Israa` (17) : 11)

“Terburu-buru adalah dari setan dan berhati-hati adalah dari Allah.” (HR Turmidzi) [4]

Ketujuh, harta kekayaan. Setiap hal yang melebihi takaran, baik makanan dan kebutuhan pokok, maka waspadalah bahwa ia menjadi tempat bertenggernya setan. Tabiat manusia adalah bila mendapatkan harta, maka ia akan terus mencari yang lebih banyak, dan setiap kali kebutuhannya terpenuhi maka akan mengundang kebutuhan yang lain, begitu seterusnya, hingga akhirnya terjerumus ke dalam lembah kehinaan.

Kedelapan, bakhil dan takut miskin. Sufyan ats-Tsauri pernah berkata bahwa setan itu mempunyai senjata yang sangat ampuh, yakni menumbuhkan rasa takut miskin pada diri manusia. Dengan senjata ini, manusia akan mulai melakukan kebatilan, mencegah kebenaran, berbicara dengan hawa nafsu, dan senantiasa berprasangka buruk kepada Tuhannya. Demikianlah, sehingga bakhil mencegah manusia melakukan infak dan bersedekah. Sebaliknya, bakhil akan mendorong manusia untuk menimbun dan menyimpan harta, sampai akhirnya ia mendapatkan siksa yang pedih. Hal ini telah diungkapkan dalam Al-Qur`an.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka menghalang-halangi manusia dari jalan Allah. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (at-Taubah (9) : 34)

Kesembilan, fanatik kepada salah satu mazhab. Termasuk sesuatu yang membinasakan semua hamba dan orang-orang fasik adalah karena mencaci orang dan sibuk menyebutkan kekurangan mereka, sementara ia tidak melihat kekurangan yang ada pada dirinya. Setan akan memunculkan khayalan bahwa apa yang dilakukannya adalah kebenaran dan sesuai tabiatnya. Maka, hal tersebut terasa manis di hatinya sehingga ia semakin antusias melakukannya, merasa gembira dan senang, bahkan dikiranya sebagai perjuangan untuk agama, padahal merupakan tindakan mengikuti setan. Pintu ini adalah pintu setan yang banyak menjerumuskan ulama. Oleh sebab itu, kenalilah dan waspadalah terhadapnya.

Kesepuluh, mengajak orang awam berpikir tentang Dzat Allah. Mengajak orang awam untuk berpikir akan Dzat Allah adalah sesuatu yang tidak terjangkau oleh akal mereka sehingga akan menimbulkan keraguan terhadap agamanya, atau akan menimbulkan berbagai khayalan yang tidak benar tentang Allah yang dapat mengakibatkan terjerumus ke dalam bid’ah atau kekafiran. Adapun ia sendiri merasa senang dengan apa yang berkecamuk di dalam dadanya. Ia mengira hal itu sebagai suatu pengetahuan dan bashirah, dan bahwa hal itu terungkap berkat kecerdasan dan kehebatan akalnya. Rasulullah saw. bersabda,

“Setan mendatangi salah seorang di antara kamu seraya bertanya, ‘Siapakah yang menciptakan ini?, siapakah yang menciptakan itu? sampai ia bertanya, siapakah yang menciptakan Tuhanmu?’ Jika sampai pada pertanyaan ini, maka berlindunglah kepada Allah dan sudahilah percakapan itu.” (HR. Ahmad) [5]

Kesebelas, buruk sangka kepada kaum Muslimin. Diriwayatkan dari Ali bin Husain bahwa Shafiyah binti Huyai bin Akhthab memberitahukan kepadanya bahwa Nabi saw. pernah beri’tikaf di dalam mesjid. Shafiyah berkata,

“Kemudian aku mendatangi Nabi saw. dan berbicara kepadanya. Setelah sore aku pun kembali, lalu Nabi saw. berjalan bersamaku. Di tengah jalan kami berpapasan dengan dua orang lelaki dari Anshar seraya mengucapkan salam, kemudian kedua orang itu terus melaju, tetapi Nabi saw. memanggil keduanya dan berkata, ‘Sesungguhnya ia adalah Shafiyah binti Huyai.’ Kedua orang itu berkata, ‘Wahai, Rasulullah, kami tidak berprasangka kepadamu kecuali kebaikan.’ Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya setan mengalir pada peredaran darah tubuh, dan sesungguhnya aku khawatir setan akan memasukkan sesuatu di hati kalian berdua.’” (HR Bukhari dan Muslim) [6]

Perhatikanlah bagaimana baginda Rasul begitu mengkhawatirkan umatnya, lalu mengajarkan kepada mereka jalan untuk menghindari tuduhan, dan juga kepada orang yang alim sekalipun, tidak dengan enteng dan penuh rasa ujub mengatakan orang tidak akan mungkin berprasangka buruk kepadanya.

Karena itulah, jika kita melihat seseorang berprasangka buruk terhadap orang lain dengan mencari-cari kekurangannya, maka ketahuilah sesungguhnya orang tersebut adalah orang yang sangat buruk hatinya.

Demikianlah sebagian pintu masuk setan ke dalam hati, dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak terbilang jumlahnya. Akan tetapi, apa yang dipaparkan di atas cukuplah mengingatkan yang lainnya bahwa tidak ada sifat manusia yang tercela kecuali setan menjadikannya sebagai pintu untuk masuk ke dalam diri manusia, dan akhirnya akan menjadikannya lalai, lupa, bahkan ingkar kepada ajaran Allah SWT.

Lalu, apa terapi yang bisa menolak setan? Apakah cukup dengan dzikrullah? Jawabannya adalah tentu tidak hanya itu, tetapi terapi hati dalam hal ini dapat menutup pintu-pintu setan tersebut dengan senantiasa membersihkan hati dari sifat-sifat yang tercela. Apabila sifat-sifat tercela itu telah dibersihkan, maka setan masih tetap memiliki berbagai lintasan di dalam hati, tetapi tidak bisa menetap di dalamnya. Berbagai lintasan tersebut bisa dicegah dengan dzikrullah karena hakikat zikir tidak dapat merasuk ke dalam hati kecuali setelah disuburkan dengan takwa dan dibersihkan dari sifat-sifat tercela.

Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s