HAK ANAK ANGKAT ATAU ADOPSI

Biasanya menurut keyakinan tradisi dimasyarakat bila menikah namun belum dikaruniai anak biasanya mengadopsi atau mengambil anak angkat sebagai pemancing  bisa punya anak tapi Allah Swt punya ketentuaan lain.

Dua tahun setelah mengadopsi  dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik,  Walaupun sudah memiliki anak kandung sendiri, kedua pasangan tersebut tetap menyayangi sama seperti anak kandungnya sendiri. Pada saat anak-anaknya beranjak dewasa, oang tua laki meninggal . Saat Ibu akan membagi warisan terjadi polemik

Apakah pengertian anak angkat/ anak adopsi itu?

Secara etimologi yaitu, pengangkatan anak berasal dari kata “adoptie” bahasa Belanda atau “adopt” bahasa Inggris. Pengertian dalam bahasa Belanda menurut kamus hukum, berarti pengangkatan seorang anak untuk sebagai anak kandungnya sendiri. Secara terminologi, yaitu dalam kamus umum bahasa Indonesia dijumpai arti anak angkat, yaitu anak orang lain yang diambil dan disamakan dengan anaknya sendiri. Dalam ensiklopedia umum disebutkan bahwa pengangkatan anak adalah suatu cara untuk mengadakan hubungan antara orangtua dan anak yang diatur dalam pengaturan perundangundangan

Kompilasi Hukum Islam (KHI) memberikan pengertian anak angkat sebagai anak yang dalam hal pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggungjawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan pengadilan.

Bagaimana prosedur adopsi?

Menurut artikel di www.lbh-apik.com tentang anak yang akan diadopsi, berdasarkan Staatblaad 1917 No. 129, diatur tentang pengangkatan anak yang hanya dimungkinkan untuk anak laki-laki dan hanya dapat dilakukan dengan Akta Notaris. Dalam perkembangannya, berdasarkan Yurisprudensi (Putusan Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta) tertanggal 29 Mei 1963, pengangkatan anak dengan jenis kelamin perempuan telah dibolehkan. Staatblaad ini mengatur tentang pengangkatan anak bagi orang-orang Tionghoa yang, selain memungkinkan pengangkatan anak oleh pemohon yang terikat perkawinan, juga bagi yang pernah terikat perkawinan (duda atau janda). Karena seperti diketahui secara umum, golongan Tionghoa yang bersifat patrilinial sangat mementingkan adanya keturunan laki-laki yang dapat meneruskan nama marga mereka (istilahnya “she”).

Walaupun dalam staatsblad tersebut dimungkinkan adanya pengangkatan anak setelah perkawinan (oleh seorang duda atau janda),  khusus bagi janda yang suaminya telah meninggal dunia, tergantung pada isi wasiat suaminya. Jika almarhum suami tersebut sudah meninggalkan wasiat yang isinya tidak menghendaki pengangkatan anak, maka janda tersebut tidak dapat melakukan pengangkatan anak dimaksud.

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s