Hambatan Dakwah Dalam Keluarga

Bukankah Allah SWT telah berfirman:

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? (QS Al-Ankabut: 2)

Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS Al-Ankabut: 3)

Salah satu di antara hambatan dakwah itu adalah keluarga. Seorang da’i mungkin saja sukses dalam dakwahnya kepada orang lain, namun tidak ada yang bisa memastikan bahwa dia pasti sukses juga ketika berdakwah kepada keluarganya sendiri. Dan kegagalan mendakwahi keluarga itu bukan cerita Anda seorang, melainkan bagian utuh dari kisah-kisah dakwah para nabi dan rasul.

Bukankah ayah nabi Ibrahim as mengingkari dakwah yang beliau sampaikan? Bukankah anak dan istri nabi Nuh as membangkang dan meninggalkan ajaran beliau? Padahal keduanya termasuk Ulul Azmi, bukan?

Bukankah Nabi Muhammad SAW gagal total dari meng-Islamkan pamandanya sendiri yang paling banyak jasanya dalam perjuangan dakwah, yaitu Abu Thalib?

Bahkan kegagalan para nabi itu dalam mendakwahi keluarganya, belum ada apa-apanya dibandingkan dengan ‘kegagalan’ dakwah anda di keluarga. Sebab keluarga para nabi itu bukan hanya menentang dakwah, tetapi sudah sampai kepada tindakah kufur, mengingkari kebenaran risalah nabi, mengingkari syariat dan mengingkari adanya hari kiamat. Sedangkan ‘kegagalan’ dakwah anda di keluarga baru sampai taraf disindir gara-gara menghabis kue satu stoples. Sungguh sebuah perbandingan yang teramat jauh.

Bagaimana mungkin anda lantas bersikap over sensitif seperti ini? Anda kan belum dibantai, belum digebuki, belum cincang-cincang seperti perkedel, lalu mengapa tiba-tiba merasa putus asa? Anda belum merasakan dilempari batu sebagaimana dahulu Rasulullah SAW mengalami saat tiba di Thaif. Anda belum dibakar hidup-hidup sebagaimana dahulu nabiyullah Ibrahim as. mengalaminya.

Seorang tokoh da’i besar pernah mengatakan bahwa orang yang lahir di tengah badai, tidak akan ciut nyali hanya dengan hujan gerimis.

Maka saran kami, keluarga anda itu adalah objek dakwah anda. Jangan tinggalkan objek daklwah anda. Sebagaimana seorang nakhoda kapal tidak akan meninggalkan kapalnya yang dilamun ombak. Dia bertanggung-jawab atas apapun yang terjadi di kapalnya, bahkan meski harus menghadapi kenyataan yang paling buruk sekalipun.

Ingatlah ketika Nabi Yunus as merasa gagal dalam berdakwah, lalu meninggalkan kaumnya. Tindakan seperti ini dianggap sebagai hal yang tidak dibenarkan. Sehingga Allah SWT menghukum beliau hingga ditelan ikan besar (huut) selama beberapa waktu. Dan tobat beliau selama di dalam perut ikan adalah :

Tidak ada tuhan selain Engkau, sungguh Aku termasuk orang-orang yang dzalim.

Nabi Yunus as. adalah seorang utusan Allah SWT, namun ketika meninggalkan lahan dakwahnya, beliau ditegur oleh Allah SWT. Dan beliau mengakui bila telah melakukan kezhaliman.

Bagaimana dengan Anda, bukankah keluarga anda itu lahan dakwah anda. Mengapa anda berpikir untuk pindah kost? Apakah ini bukan sebuah pelarian diri dari kegagalan? Apakah jalan dakwah itu harus selalu licin dan mengkilat? Apakah jalan dakwah itu harus selalu bertabur bunga dan digelar dengan karpet merah?

Urungkan saja niat anda untuk meninggalkan dakwah. Lalu kembalilah kepada keluarga anda. Hiduplah yang nyaman bersama mereka. Toh mereka bukan orang kafir yang harus dimusuhi. Mereka muslim dan orang baik-baik. Mengapa anda harus marah ketika mereka merasa terusik bila merasa terusik privasi mereka? Rumah itu adalah tempat mereka, hak mereka sepenuhnya untuk tinggal dan mendapatkan privasinya.

Kalau anda menyulap rumah keluarga menjadi TPA, sementara penghuninya merasa terusik, siapakah yang zhalim dalam hal ini? Anda perlu sedikit merenungkannya, sebelum segala sesuatunya menjadi semakin tidak terarah.

Mungkin tidak salah kalau anda mengadakan TPA di masjid atau di mushalla di lingkungan wilayah anda. Tapi perlu sekali diingatkan, minta izin dulu baik-baik kepada pengurusnya. Kalau diizinkan lakukan tapi kalau tidak sebaiknya anda tidak perlu memaksakan dir

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s